Pada kuesioner Pra-POT ada pertanyaan yang melekat dalam ingatan saya. Kira-kira begini pertanyaannya, “Dari pola asuh orangtua Bapak/Ibu zaman dulu, apakah ada hal-hal yang masih dipertahankan hingga saat ini?”
Pilihan jawaban:
Saya sendiri menjawab opsi yang ketiga, dan seingat saya pada POT juga mayoritas orangtua SMIPA yang mengisi kuesioner tersebut menjawab hal yang sama.
Bagi saya jawaban tersebut memunculkan pertanyaan baru: “Mengapa mayoritas orangtua jaman sekarang memilih untuk menerapkan pola asuh yang berbeda dari yang diterapkan orangtuanya dulu?”
“Kenapa Pak/Bu?” tentunya jawabannya beragam. Barangkali, sebagian orangtua merasakan ketidaknyamanan dengan pola asuh yang diterapkan ayah-ibu dulu. Barangkali, sebagian orangtua secara sadar lebih banyak mencari tahu ilmu pengasuhan, berusaha menjadi orangtua yang lebih baik. Barangkali, pola asuh lama dinilai sudah tidak lagi relevan untuk generasi sekarang. Barangkali, sebagian orangtua secara tidak sadar, FOMO dengan pola asuh masa kini yang banyak dipaparkan di media sosial tanpa menimbang lagi apakah pola asuh itu memang sejalan dengan nilai-nilai keluarga yang diyakini. Atau barangkali yang lainnya.
Menyimak paparan POT berjudul Generasi kembali ke akar, menggugah untuk melihat sudut pandang berbeda. Saya merasa diusik untuk memaknai ulang apa yang pernah saya baca dan ketahui dari ilmu pengasuhan dari Barat. Saya yang lebih banyak terpapar parenting ala Amerika semasa masih single dan parenting ala Eropa setelah punya anak, merasa tergiring menjauh dari indigeneous parenting, pola asuh kembali ke akar. Lebih lanjut, saya merasa dingatkan kembali bahwa kita juga perlu membaca jaman, membaca Sejarah, membaca konteks lahirnya pemikiran-pemikiran parenting populer dari Barat. Pemikiran parenting tersebut lahir karena pengaruh kondisi yang di hadapi pada masa itu. Konteks ini juga membawa kita melihat parenting dari sudut pandang yang lebih luas, tidak hanya pada level individu. Dengan cara demikian, mungkin kita bisa memaknai suatu gaya pola asuh secara lebih tajam dan mempertimbangkan apakah gaya tersebut layak diadopsi.
Melihat kembali apa yang saya tuliskan ketika menghadiri POT Berkesadaran Mendampingi Anak-anak Kita ada pernyataan menarik dari Dr. Mohammad Faisal: “Orangtua juga perlu mengembangkan rasa, hingga menemukan ilham tentang parenting”. Sependek pengalaman saya menjadi orangtua dari satu anak. Pernyataan tersebut melecut saya untuk melihat ilmu pengasuhan dari sudut pandang yang lain. Yakni bahwa saya juga tidak perlu melulu merujuk pada buku ilmiah/referensi ahli bagaimana caranya mendidik anak. Bahwa saya, perlu mengizinkan insting alamiah saya sebagai orangtua, yang dengan sendirinya tahu kok bagaimana menghadapi anak kita sendiri. Bahwa Tuhan telah membekali diri kita sebagai orangtua, untuk mendampingi anak-anak kita. Bahwa saya perlu percaya pada kemampuan diri sendiri sebagai orangtua. Jujur, saya merasa telah mengenyampingkan hal-hal ini.
Sebagai penutup, saya ingin membagikan apa yang saya tulis di buku catatan saya pada akhir pertemuan POT.
Menjadi orangtua itu, tidak ada jawaban mutlak, sebuah perjalanan, sebuah seni, garis mulainya berbeda, background berbeda. (Kembali ke akar masing-masing, sadari, terima, nikmati, syukuri)
Menjadi orangtua itu, proses pengenalan diri kita sendiri kepada anak. Anak kita tau seperti apa diri kita, diri ayah-ibunya. (Akar seperti apa leluhurnya? akar ayah-ibunya? dan kelak anak menghayati akarnya)
Hal yang terpenting dari menjadi orangtua adalah anak tahu dan merasa dicintai oleh orangtuanya. (Setuju banget sih ini!)