Saya terjaga ketika matahari sudah hampir terbit. Kedinginan! Walau saya tahu sejak semalam heater terus menerus mengeluarkan bunyi mendengung dan menghangatkan seluruh rumah, tapi udara dingin dari luar masih bisa masuk melalui celah-celah jendela atau pintu. Ketika suhu dibawah angka nol, rasa dinginnya sangat terasa. Hari ini hampir tidak ada kegiatan berarti jadi saya tidak perlu bangun terlalu pagi. Ada keinginan menarik kembali selimut tebal, tapi saya memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Saya berjanji untuk membuat gumbo. Makanan khas daerah Selatan, semacam sup kental berisi udang, ayam dan sosis pedas ala Cajun. Saya intip halaman belakang dengan menyingkapkan sedikit tirai kamar tidur. Rumput, pohon-pohon dan atap rumah semua putih. Saju telah benar-benar datang, ramalan cuaca telah dengan tepat memperkirakan cuaca hari ini. Membayangkan menikmati gumbo dengan sidikit nasi di cuaca seperti ini, membuat saya bersemangat.
Saya memasak beberapa lembar bacon yang sudah dipotong-potong. Lalu saya angkat sementara minyaknya saya gunakan untuk ayam dan sosis yang juga sudah dipotong-potong. Tujuannya agar daging-daging ini dibuat kecoklatan agar "mengunci" flavornya. Minyak dan permukaan panci sudah berwarna kecoklatan, penuh dengan flavor dan akan saya jadikan roux dengan menambahkan tepung dan sedikit butter. Sesudah jadi paste seperti selai kacang, saya masukkan celery, bawang bombay dan paprika. Lalu mulai dicairkan dengan memasukkan kaldu ayam dan dilanjutkan dengan daging yang sudah coklat tadi, bumbu-bumbu dan terakhir udang. Maka jadilah gumbo. Sangat mudah memasaknya, hanya butuh kesabaran dan ketelatenan, terutama ketika membuat roux agar tidak hangus. Memasak itu memberikan efek terapetik, selalu membuat saya bahagia. Apalagi sambil bekerja di dapur saya dapat menikmati aroma yang sedap. Ini kombinasi yang sangat sempurna untuk sebuah kebahagiaan. Memasak bagi saya bukan pekerjaan, tidak pernah merasa terpaksa. Ini bagi saya adalah proses menjalankan sebuah kebahagiaan.
Tidak sampai 2 jam semua sudah selesai, perlatan masak yang kotorpun sudah saya cuci. Lalu saya duduk beristirahat sambil membuka HP. Saya melihat ada sebuah sajian menarik. Di Jepang ada sebuah restoran namanya The Restauran of Mistaken Orders. Namanya aneh ya? Kenapa begitu? Sebab memang para pengunjung harus bersiap-siap menikmati pesanan yang salah. Katanya 37% kemungkinan bahwa makanan yang kita pesan akan salah. Kok bisa begitu? Sebab para pramusajinya rata-rata penyandang dimensia. Yang membantu menyajikan makanan di restoran itu kebanyakan opa-opa atau oma-oma yang sudah pikun. Hanya 63% yang kita pesan itu benar-benar disajikan, sisanya salah. Restoran itu ramai sekali. Aneh bukan?
Para penyandang dimensia itu sangat akrab melayani pengunjung. Mereka berinteraksi dengan baik, bergurau, ngobrol dan menyajikan makanan. Para pengunjung terlihat sangat menikmati interaksi ini. Bagi mereka tidak penting apakah makanan yang mereka pesan itu akan disajikan dengan benar atau tidak. Yang penting mereka berada di sana untuk mencari kebahagiaan. Katanya selama duduk menikmati makanan dan berinteraksi dengan para manula yang sudah pikun itu, dapat memompa hormon dopamine, oxytocin, cannabinoids, dan sebagainya. 99% pengunjung meninggalkan restoran itu dengan perasaan bahagia, demikian pula para pramusaji yang bekerja karena di situ mereka dapat berinteraksi dan bersendagurau dengan para pengunjung daripada terisolasi dan tinggal di rumah masing-masing dan merasa kesepian. Menarik sekali bukan?
Manusia memang mahluk sosial. Kesendirian tidak selalu dapat membuat bahagia. Mangkanya saya sangat senang menyaksikan senior center, sebuah tempat yang dapat dimanfaatkan oleh para seniors, para manula, untuk bisa berenang, berolahraga, membaca atau hanya sekedar berkumpul bermain puzzle, kartu atau ngobrol sambil minum kopi. Walau saya belum termasuk senior, saya sering kesana untuk berenang atau berolahraga. Saya dapat melihat bagaimana para manula yang bahkan ada yang sudah berusia diatas 80 tahun masih dapat berinteraksi dengan rekan-rekannya. Saya dapat menyaksikan mereka begitu berbahagia walau hanya sekedar duduk sambil menyatukan kepingan-kepingan puzzle bersama teman-temannya. Bandingkan dengan mereka yang hanya tinggal di rumah, duduk menyendiri, kesepian karena tidak memiliki teman bicara. Mereka yang terisolasi terlihat tidak sebahgia mereka yang berinteraksi dengan orang lain. Jadi ingat lirik lagu Happy yang dinyanyikan oleh Pharell Williams: Clap along if you feel like happiness is the truth
(Because I'm happy)...
Foto credit: bplolinenews.blogspot.com