Masih seputar kenangan masa lalu yang saya habiskan bersama ayah saya. Sepertinya tulisan sebelum ini tentang ayah, seorang manusia super yang tidak pernah berhenti saya kagumi, masih belum memuaskan saya untuk bercerita. Saya masih punya beberapa banyak kenangan indah bersama beliau. Mungkin rasa kangen yang bertumpuk-tumpuk ini, disamping saya juga tahu kondisi beliau memang sudah semakin menurun, maka mau tidak mau banyak yang saya pikirkan. Memikirkan yang menyedihkan toh juga tidak akan membantu memperbaiki suasana, maka saya melakukan sebaliknya, memikirkan kenangan-kenangan yang indah.
Kelas 6 SD. Menjelang ujian akhir saya biasa belajar sangat keras. Ya, sejak naik ke kelas 4 SD entah apa yang menyebabkan, saya yang biasa nilai raportnya kebanyakan angka 6 dan sesekali (sekali lagi, sesekali hahaha) ada nilai 7-nya. Tiba-tiba saya seperti keranjingan belajar dan merasa ada semacam persaingan. Saya berubah total menjadi seorang anak yang kompetitif. Ya saya belajar untuk menjadi juara! Entah setan apa yang merasuki saya. Nah saya belajar sangat giat! Anehnya, ayah saya yang melihat saya belajar giat, justru sepertinya malah kurang setuju. Saya diajak pergi memancing ikan! Sungguhan ini!
"Dad, besok saya ujian." kata saya.
"Ya ga apa-apa, kamu sudah terus-terusan belajar. Santai saja, ayo kita mancing." Kata ayah saya.
Kami bagun pagi sekali, naik sepeda ke muara sungai dan menyewa perahu. Kami mendayung hingga menjelang ujung muara sungai dan memancing seharian berteduh di kerimbunan pohon bakau. Saya yang tidak rela jika nanti "dikalahkan" teman sekelas tetap membawa beberapa lembar kertas ringkasan dan sambil memancing saya tetap belajar (saya malah ingat salah sehelai kertasnya jatuh ke air lalu tintanya pudar) hahaha.
Hari berikutnya, sepulang ujian hari ke sekian, saya disuruh berhenti belajar lagi. Ayo main kartu! Hahaha... Dalam hati, ini ayah saya kok malah menyuruh saya untuk tidak belajar? Sementara saya ingat salah seorang teman saya, K namanya (saya tidak mau menyebutkan nama lengkapnya) terus diteror oleh ayahnya untuk belajar giat agar tidak kalah oleh saya! Seriusan, dia sampai begitu stress karena dimarahi ayahnya karena prestasinya di bawah saya. Kasihan! Sedihnya akhirnya dia semakin berubah, semakin pendiam, menjauh dari banyak orang, bahkan ada kejadian ayahnya sendiri dia tembak dengan senapan angin dibokongnya. Dia masuk panti rehabilitasi dan meninggal di sana. Duh, semoga sekarang sahabat saya ini sudah bahagia di sisiNya!
Entah ayah saya ini punya mantera apa. Saya memang lebih rileks dalam menjalani ujian. Belajar memang sepertinya tidak tuntas, tapi pikiran saya memang jernih. Hasilnya, hahaha... mungkin saya harus berterima kasih pada ayah saya. Ijasah saya mempunyai 3 angka 10! Salah satunya matematika, juga agama. Agak samar apa satunya lagi, entah IPA atau bahasa. Saya lulus dengan nilai terbaik. Prestasi ini saya terus pertahankan hingga lulus SMP, tidak selalu juara, tapi minimal selalu di 3 besar. Pengalaman memancing dan bermain kartu tidak pernah saya lupakan hingga saya sudah ubanan hahaha..
Peristiwa lain yang tidak pernah saya lupakan adalah bermalam di tengah laut. Ayah saya lagi-lagi mengajak mancing. Kali ini malah lebih jauh lagi, ke tengah laut. Di tengah laut ada semacam panggung yang dibangun oleh para nelayan dengan rancangan bambu. Namanya kalau di kampung panggung bambu itu Sero. Di atas sero itu ada dek di mana kami bisa tidur bahkan memasak. Tidak semua sero memiliki dek, ada yang hanya tiang-tiang pancang, jadi duduk di batang bambu bukan dek dengan anyaman bambu. Kalau sero semacam ini tentu tidurnya di perahu yang kadang karena terus terombang ambingkan ombak, orang yang tidak terbiasa akan mudah mabuk.
Malam hari di tengah laut sangat indah! Karena gelap, maka angkasa menjadi pemandangan yang sangat menawan. Meteor, bintang jatuh akan sangat mudah disaksikan. Ketika kail sedang tidak digigit ikan, saya tiduran terlentang sambil memandangi langit yang penuh bintang sekeliling saya. Saya benar-benar dikelilingi langit, dari satu cakrawala ke cakrawala yang lain. Batasnya hanya langit yang seolah-olah bersentuhan dengan ujung air laut. Radio kecil menemani saya mengalunkan lagu-lagu yang kadang sering terlelap karena hembusan angin atau memang sinyalnya melemah. Ini suasana yang sulit saya utarakan dengan kata-kata.
Saya lalu memandang ke air. Ini pemandangan lebih menawan lagi. Semua pergerakan di bawah air memantulkan warna hijau, seperti fosfor! Cumi-cumi bergerak seperti aliens di film the Abbys! Amat sangat indah. Lalu ikan yang bergerak ke sana kemari seperti mempunyai ekor hijau yang sangat panjang karena arus pergerakan ikan-ikan itu memberikan warna hijau. Pernah melihat kapal jet yang menyisakan garis putih di langit? Nah jika di air itu berwarna hijau dan berseliweran ke sana kemari karena ada ratusan bahkan ribuan ikan dan binatang lainnya. Ini sangat luar biasa!
Ini malam yang tak terlupakan. Saya bahkan lupa memancing karena begitu terpesona dengan alam sekitar saya. Manusia serasa sangat kecil dibandingkan dengan keindahan alam bertaburan dengan bintang-bintang di langit dan garis-garis hijau di air yang tidak pernah berhenti semalaman. Saya memang berhasil memperoleh beberapa ikan yang besar-besar, entah namanya apa, ayah saya tahu semua, saya tidak terlalu memperhatikan yang penting sepatu saya kalah besarnya.
Pagi hari sangat dingin. Saya tidak berani menyentuh air hingga matahari terbit dan kehangatan mulai dapat saya rasakan. Baru sesudah tubuh hangat saya berani mandi dengan terjun ke air. Berenang di tengah laut itu mempunyai sensasi yang sangat jauh berbeda dengan di sungai atau di kolam. Menyadari bawa kaki tidak akan mampu menyentuh dasar laut memberikan perasaan agak was-was. Tapi di tengah ketika ombak begitu halus, memang sangat luar biasa. Selesai berenang memang segar, tapi tubuh malah lengket karena air garam hahaha.. Ayah saya berhasil menangkap beberapa cumi-cumi. Sarapan dengan merebus cumi-cumi dengan nasi yang kami bawa dari rumah. Ini adalah cumi-cumi tersedap sepanjang segala masa. Masih segar diambil dari laut, direbus dengan air laut. Rasanya sangat wow! Restoran fine dining yang menyediakan calamari tidak akan dilirik dengan sebelah mata. Seandainya saja saya punya kesempatan lain, saya akan bawa saos marinara dari rumah dan pasta. Saya akan buat seafood pasta yang melebihi kualitas chef dunia hahahaha...