"Wah, kok tau tau udah jam 8 malem lagi?" Kata saya sambil mencuci tangan. Tangan saya agak lengket karena susu kental manis. Malam ini, sesuai janji saya pada Nina, membuat martabak mini super tipis karena kami berdua memutuskan untuk tidak akan membeli martabak terang bulan di pinggir jalan lagi. Pertama karena gulanya luar biasa banyaknya, margarine nya yang entah berapa kwintal, serta susu kental manisnya yang bisa buat luluran. Seram! Katanya untuk membakar sekerat martabak manis itu, kita butuh berlari selama 20 menit dengan kecepatan 9km/jam. No way! Jadi saya membuat sendiri dengan setengah sendok teh susu kental manis, tidak ditaburi gula lagi dan sama sekali tidak menggunakan butter maupun margarine. Hasilnya, kami bisa makan martabak tanpa merasa berdosa! Rasanya juga tidak kalah enaknya.
Saya memang sangat lelah hari ini. Kemarin malam hampir tidak tidur, sebelum matahari terbit sudah di jalan raya karena menghindari macet mengantar Nina ke kantor. Sore saya menyempatkan diri berolahraga membakar hampir 700 kalori jadi bisa cheating sedikit makan martabak hahaha. Nah malam saya bisa duduk nyaman menikmati suara hujan rintik-rintik di luar.
"Every sunlight is a borrowed time. Every rain drop is a borrowed time". Gumam saya dalam hati. Memang hidup itu penuh dengan ketidakpastian. Waktu yang kita nikmati hanyalah titipan, bukan milik kita. Apakah besok masih bisa menikmati suara gemericik hujan? kita tidak pernah tahu.
Memang borrowed time itu semacam metafor yang mengambarkan betapa tidak jelasnya kehidupan itu. Manusia yang seringkali merasa angkuh merasa menguasai segala sesuatu. Sebetulnya jika kita perhatikan benar-benar, manusia itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keagungan semesta. Manusia hanyanya sebutir debu yang bisa ditiup dan menghilang entah kemana dengan begitu saja. Mungkin karena benar-benar tidak disadari dan kebanyakan diantara kita tidak menjalani hidup secaca mindful, maka kita tidak memperdulikan apa-apa dan justru mengarahkan kehidupan kita menuju semacam self-destruction yang menghancurkan diri sendiri.
Manusia begitu membabi buta mengejar segala sesuatu yang menurutnya sangat penting hingga melupakan banyak hal. Kita lupa akan apa yang sesungguhnya berarti dalam hidup, kita melupakan relasi dengan orang-orang yang sebenarnya sangat berarti dalam hidup, kita lupa mengalami, dan kita selalu menunda-nunda banyak hal seolah-olah kita akan hidup selamanya. "Masih ada besok", kita sering berkata begitu padahal kalau kita sadar bahwa waktu yang kita jalani ini hanyalah titipan yang dapat diambil sewaktu-waktu, tidak ada lagi yang namanya hari esok!
Kita bisa saja kehilangan seseorang yang kita sayangi sewaktu-waktu. Kita bisa saja kehilangan semua yang kita miliki tanpa dapat kita duga. Banyak contoh yang kita dapat lihat sungguh-sungguh selama hidup, tapi apakah kita benar-benar menyadari? Tsunami yang begitu mencekam tahun 2004 misalnya, siapa yang menyangka akan menewaskan lebih dari 200 ribu orang, salah satu dari mereka adalah teman saya yang pernah bersama-sama menghabiskan waktu berbulan-bulan di Hawaii. Bencana alam adalah salah satu contoh yang paling jelas, yang hampir seringkali tidak dapat kita duga. Masih kurang apa lagi?
Waktu mengajarkan kita untuk tidak berpongah diri, waktu mengajarkan kita untuk bersyukur, waktu membimbing kita untuk lebih rendah hati. Kita dilahirkan tanpa membawa apa-apa, dan pulang pun akan dengan tangan hampa. Kita hadir dari debu dan akan kembali menjadi debu. Kita sebaiknya menyadari itu semua. Kita mengalami hidup dalam borrowed time, bukan milik dan tidak akan pernah menjadi milik kita. Kita tidak punya kuasa akan bunyi rintik hujan, kita tidak memiliki hangat sinar matahari, kita tidak punya apa-apa, jadi sebaiknya jangan pernah berhenti bersyukur masih dapat mengalami itu semua.
Foto credit: in.pinterest.com
lupa "mengalami" ini sungguh dalem banget yah.. sibuk jadi human doing instead of human being. btw, human foodie udh baca smp tamat tp ttp ga lupa paragraf pembuka tentang martabak tipis less sugar loh.. terdengar enak sekali π€
Hahahaha... ujug2 dr martabak ke ngomongin yg aneh2 ya.. itu krn dari awal ga tau mau nulis apa, jd nongol martabak tau2 nemu sesuatu dan akhirnya berlanjut... begitu ceritanya hahaha
Nice post Jo. Good reminder. βπΌπ€