Dulu aku percaya Ibuku punya mantra ajaib, sebab semacet apapun jalanan kalau Ibuku bilang bisa sampai tanpa kesiangan biasanya terjadi. Lain cerita saat mencari parkir, sepadat apapun tempat yang kami tuju jika Ibuku bilang "Tenang, kita akan dapat parkir enak sebentar lagi", pun lagi-lagi jadi kenyataan. Sampai akhirnya aku terbiasa saat akan bepergian antara menggoda dan serius meminta Ibuku berdo'a untuk kelancaran dan mudah parkir. Eh, kenapa gak kulakukan sendiri ya? Lama-lama aku berpikir begitu dan merasa malu sendiri, 'kok, aku yang punya hajat tapi mintanya melalui Ibu?' Tapi beliau menjawab setengah lebih serius tentang rangkaian harap yang tak terputus dalam do'anya serta rasa percayanya.
Begitulah Ibu, wanita yang kutahu paling sedikit tidurnya. Dalam ingatanku, kala aku terbangun beliau sudah melakukan segala hal. Pun saat aku mulai mengantuk, beliau masih juga melakukan banyak hal dan menyuruhku untuk segera naik ke tempat tidur karena esok aku harus kembali menghadapi hari-hari. Suntikan semangat beliau inilah yang menjadi pandu dan busur tempat anak panahku melesat jauh. Beliau juga yang senantiasa menjaga rahasiaku, menjadi perisaiku. Dan hari ini aku ceritakan tentang hal ini pada anakku, bahwa setiap Ibu pasti punya cara unik untuk membagi cintanya.
Usai kubercerita, kuselipkan sebuah pesan maaf untuknya atas caraku yang mungkin tak selalu sejalan dengan inginnya. Kemudian kubisikkan siapa yang mengajariku cara untuk berani mengakui kesalahan serta meminta maaf, ialah wanita yang sering diajak anakku bersenda gurau. Wanita itu pun kuyakin cukup memiliki arti besar dihatinya, tempat ia juga menitipkan rahasia-rahasianya sama sepertiku.
Foto pinjam lagi disini*