Di jaman yang serba cepat, banyak hal tersaji dengan mudah. Makanan instant, tontonan berdurasi singkat, pilihan kegiatan semakin beragam dan hal lain yang membuat diri kita lupa bahwa kesadaran mulai tergerus. Hal ini sering dirasakan oleh kita sebagai orang tua, dan juga anak-anak. Contoh sederhana, kita sering melihat anak-anak makan makanan di meja makan sambil melihat tayangan di gawai mungil. Tanpa sadar, makanan di sendok tidak sepenuhnya masuk ke mulut. Ada nasi yang jatuh ke meja, ada kuah yang juga tercecer. Padahal, apabila disadari kita sedang makan, maka kita bisa menikmati dan mengunyah makanan dengan lebih tenang, indra perasa kita merasakan bumbu-bumbu masakan dengan lebih khidmat, dan juga kita bisa mengunyah makanan yang sesuai anjuran para ahli yaitu 32 kali kunyahan, misalnya. Dengan mengunyah makanan sampai halus, maka kerja organ pencernaan pun akan lebih mudah bekerjanya, makanan jadi lebih mudah diserap. Kesehatan bisa lebih terjaga.
Mindfulness menjadi topik yang menarik di era serba cepat dan banyaknya distraksi. Rehat sejenak. Ambil nafas, luangkan waktu untuk berpikir dan bertindak. Renungkan.
Tadi pagi, saya cek tekanan darah seperti yang rutin saya lakukan setiap pagi ketika sudah bangun tidur. Bahwa tekanan darah normal itu berkisar di 120/80. Tes pertama, angka digital menunjukkan sistolik di angka 125. Wah, agak tinggi nih. Sejenak saya ambil nafas, atur pola nafas dan meditasi singkat, lalu lakukan tes lagi. Hasilnya, angka sistolik menunjukkan angka 119. Yeaay, normal.
Begitu juga dalam kehidupan kita. Di tengah riuhnya target hidup, rutinitas harian yang mungkin melelahkan, ada baiknya sejenak kita perlu rehat, kalibrasi kembali agar tenaga, semangat dan daya juang tetap pada jalurnya, tidak burn out.
Maka, terburu-buru sebaiknya menjadi aktifitas yang perlu kita hilangkan. Dan juga ingatkan ke anak-anak kita. Lakukanlah aktifitas dengan kesadaran penuh agar dapat dimaknai untuk apa kita melakukan aktifitas tersebut.