AES065 Ternyata, Tak Nyata, Menyatakan
yulitjahyadi
Tuesday November 2 2021, 9:07 AM
AES065 Ternyata, Tak Nyata, Menyatakan

Seharian kemarin perasaannya seperti mengambang, pekerjaan ada tapi seperti menunggu sesuatu terlebih dahulu. Ternyata di penghujung hari, obrolan panjang di telepon membuat sesuatu di dalam diri ini mulai terusik. Sesuatu yang berhubungan dengan pertanyaan besarku sendiri, 'Mau melangkah kemana sekarang?' 

Aku terbangun pagi tadi dengan ingatan mimpi yang jelas, satu rangkaian kejadian datangnya ombak besar dengan berbagai detail yang masih jelas terekam. Tetapi yang lebih penting justru perbincanganku dengan Dani yang jadi saranaku untuk ngobrol dengan diriku sendiri. Pernyataan maupun pertanyaan yang terucap keluar pagi ini adalah bahan olahan berpikirku sendiri saat ini dan bahan refleksiku sekarang. 

Proses menemukan sesuatu itu begitu panjang jalannya, setidaknya itulah yang kurasakan. Ibaratnya bertanya sesuatu dan jawaban yang diterima hanyalah penggalan kalimat, atau bahkan satu kata saja dan diterima terpisah-pisah dengan waktu yang berbeda pula.

Ini memang bukan tentang rencana yang kubuat sendiri, jika rencana itu terpikirkan, pastilah ada rancangan yang tergambar beserta urutan pelaksanaannya. Seperti halnya rencana membuat rumah, maka gambar rumahnya bisa dibuat lengkap dengan memuat semua detail rencana dalam rancangannya sehingga kemudian dapat dengan mudah disusun tahapan pengerjaannya dan dikerjakan.

Bersandar pada kehendak semesta beda ceritanya, rancangan besar itu tidak bisa  kulihat, tapi sebagai pekerja, seolah terus menerus diberi bahan atau alat untuk mengerjakan sesuatu.

Ibaratnya hari ini hanya diberi bahan, tentulah aku bertanya apa yang bisa kukerjakan dengan material itu. Mungkin ya sekedar mengamati-amati saja. Lain hari mungkin akan dikirimi alat, dan masih belum paham apa maksud dari pemberian bahan dan alatnya itu, masih memikirkan apa yang bisa kulakukan dengan keduanya. 

Kondisi semacam itu memunculkan banyak pertanyaan, 'Apa maksudnya?', 'Bagaimanakah?', 'Apa yang bisa kulakukan?', 'Mengapa demikian?' dan seterusnya. Lalu bisa jadi aku hanya sekedar menunggu instruksi dengan diam saja, atau bisa juga mulai melakukan sesuatu dengan bahan dan alatnya dibanding tidak melakukan apa-apa. Dengan kemampuan berpikir dan talenta yang menempel pastilah ada yang bisa dimulai dengan kondisi apapun yang ada.

Di lain waktu saat ada orang lain yang datang memberi lahan dan mulai menginstruksi sesuatu, maka saat itu bisa saja aku mulai sedikit paham fungsi bahan dan alatnya. Bisa mulai mengerti juga bahwa saat memulai sesuatu dengan bahan dan alatnya, aku bekerja mengolah diriku meski saat itu terjadi aku bergerak seolah tanpa satu tujuan yang jelas terencana. Barangkali juga proses aku mengolah itulah yang jadi responku, sehingga semesta mengirimkan kelengkapannya.

Proses yang panjang itu tak hanya menuntut tapi sekaligus juga menuntun kesadaran dan kesabaran. Sesuatu yang tidak kelihatan, tak kentara, tak nyata pastilah membutuhkan kepekaan dan keyakinan yang besar. Seperti itulah memang sebuah rancangan sebelum jadi nyata dan sebuah rencana sebelum jadi peristiwa. Tak kelihatan, tak terbayangkan secara jelas, mungkin ada tapi samar-samar, mungkin kesamaran itu juga hanya tebak-tebakan saja. Apalah artinya kemampuan berpikirku yang kecil ini jika nyatanya begitu banyak kejadian yang sama sekali tidak pernah terlintas sebelumnya. 

Respon kak Andy di esai Open Heart ku barusan membuatku membaca ulang isi tulisanku itu, dan kutipan yang bercetak tebal di paling bawahnya menyadarkanku kembali. 

Menjadi nyaman dalam segala ketidakpastianlah yang memang butuh diupayakan dari hari ke hari, karena dengan begitu, aku bisa selalu terbuka dengan apa saja yang ada. Dengan membuka diri dan hati, aku jadi selalu siap menerima apa saja yang akan diberikan untukku setiap saat. 

Insecure? kurasa itu wajar, karena aku pun menabung demi security, hehehe... Enggak lah, ini semua bukan tentang itu, dan aku pun tahu kemana aku harus mengarah saat butuh perlindungan. Pada akhirnya hanya itu yang dibutuhkan setelah semua upaya, keberserahan pada yang tak nyata agar Ia sendiri lah yang menyatakannya. ❤