Kalau di Ririungan sedang ada permainan Ucing Literasi. Saya mengalami hal yang lain. Pikiran, ide dan proses menulis sedang bermain ucing sumput! Coba saja, sudah ada 5 hal yang ingin saya tulis selama setidak-tidaknya 3 hari terakhir ini, tidak ada satupun yang berhasil. Saya pikir ide sudah ada, tinggal mulai mencurahkan dalam bentuk tulisan, tiba-tiba menghilang. Ada yang berhasil hingga 5 paragraf, terus terhenti, ada yang 3, 2, dan bahkan hanya 1 paragraf. Tidak ada yang selesai. Sampai sekarang sudah ada 51 buah draft tulisan yang tidak bisa atau belum berhasil saya kembangkan. Mulai terasa putus asa, tapi saya tidak mau menyerah dan berhenti menulis tanpa berusaha lebih keras lagi. Tapi harus bagaimana? Saya tidak punya ide, kalaupun ada tidak bisa dikembangkan. Macet!
Saya terus berpikir tidak mau menyerah. tubuh sudah mulai lelah dan kantuk sudah mulai datang. Hari ini lumayan melelahkan setelah tadi pagi saya berenang lalu berusaha menyelesaikan semua pekerjaan di kantor sebelum memulai akhir pekan.
"Bagaimana Kano, Mas? Betah tidak kerja di tempat baru?" Tiba-tiba ada seorang teman bertanya dalam bahasa jawa melalui WA.
"Oh dia senang sekali di tempat baru." Jawab saya
"Iya dong, apalagi ada tante H." Kata teman saya itu, si tante H.
"Ternyata Kano itu tukang cerita ya. Tadinya saya kira dia itu pendiam." Kata Tante H
"Masa sih?" Tanya saya tidak percaya. Tadi siang saya lihat dia di tempat kerja ketika saya makan siang. Kano terlihat sangat cekatan walau dia kurang senyum. Jadi saya pikir dia memang pendiam. Ternyata menurut teman saya yang juga bekerja di situ, yaitu tante H, Kano ternyata sangat ramah dan tukang cerita.
"Iya loh, terus dia memang bagus di tempat kerja. Nih kata Tamao: Kano is quick learner. I feel much easy to work last three days with him." Kata teman saya lagi. Ini saya kutip persis dengan yang Tamao katakan.
Tamao adalah salah satu pekerja di station yang sama dimana Kano saat ini ditempatkan. Seorang ibu setengah baya keturunan Jepang yang juga pekerja keras sehinga jika ada pujian dari dia, saya langsung percaya betul.
Sepanjang sore ini saya memang terus tersenyum antara senang dan bangga. Senang karena sepertinya semua rencana dapat berjalan dengan lancar, bangga karena ternyata memang seperti yang Kano janjikan akan bekerja sebaik mungkin, dan itu sudah mulai dia buktikan. Kebanyakan orang-orang yang bekerja di sana sangat menyukai Kano.
Percakapan kami di WA hanya berlangsung selama 10 menit. Saya kemudian menaruh telepon genggam di meja lalu kembali meraih laptop dan duduk merenung. Layar monitor masih kosong dengan segaris kecil kursor yang berkedip kedip menunggu jari-jari saya bergerak.
Mau menulis apa ya? tanya saya lagi dalam hati. Saya buka google, mengetik satu kata yang mungkin akan menarik untuk dikembangkan. Ternyata setelah ditimbang-timbang, tidak jadi! Saya tidak tahu kalau jadi diteruskan akan dibawa kemana. Mencoba kata kunci lainnya, berhasil 1 paragraf, lalu bingung di paragraf kedua harus dilanjutkan dengan apa. Kacau! Kucingnya tidak ketemu ketemu. Kalaupun ada, ternyata bukan kucing yang diminati.
"Ga usah nulis aja gitu?" Saya bertanya pada diri sendiri.
"Bolong dong! Sudah 614 hari bisa lancar, masa harus berhenti? Ga rugi?" Debat saya
"Lalu kalau tidak mau bolong harus nulis apa?"
"Nulis tentang kucing, mencari kucing, yang lagi main petak umpet yang sulit diketemukan."
"Kucing? maksudnya kucing itu apa?"
"Maksudnya, ide! Kucing itu ide, topik menulis yang sekarang sedang sembunyi dan tidak diketemukan!"
"Udah? Gitu aja?"
"Iya. Gitu aja!"
"Ya sudah!"
Writer's block hari ke-3. Belum juga berhasil menulis dengan topik yang jelas dan yang benar-benar saya niati. Akan saya coba lagi besok.
Foto credit: lovetoknowpets.com
Meski ngeblock masih jalan terus.. luar biasa pak Joe..
hahaha... Ngawur tapinya kak