Saya memunguti nasi goreng yang tumpah berhamburan di baju, bagian dada dan perut. Susah sekali makan dengan tangan kiri, padahal sudah berusaha hati-hati sekali agar tidak tumpah. Tapi kondisinya memang begini, tangan kanan saya masih diperban dan sakit sekali. Saya berusaha menggerakkan tangan kanan dengan siku, sehingga dari bagian pergelangan tangan hingga jari-jari tidak bergerak. Memegang kontainer makanan juga dijepit dengan lengan. Kalau sedang lapar, kondisi begini memang membuat frustrasi hahaha.. Bayangkan ketika mulut sudah terbuka lebar, mata melotot mengantisipasi makananan yang sangat sedap beberapa detik lagi akan dinikmati, begitu tiba dibibir, semua tumpah berhamburan di tubuh... Grrr... Hahahaha. Ya ini tantangan, beberapa hari ke depan akan begitu. Dokter bedah orthopedik saya memutuskan untuk mengoperasi karena ada urat yang mengatur pergerakan jari tengah tangan kanan saya bengkak dan nyangkut, jadi jalurnya diperlebar agar kembali lancar. Itu saja sebetulnya. Nah pagi ini saya ke rumah sakit.
Ruang tunggu lumayan senyap walau saya hitung ada 8 orang menunggu dan seorang bayi di sana. Saya duduk menunggu giliran dipanggil. Kemarin sore perawat untuk Dr. Stockburger yang akan mengoperasi tangan saya mengubah jadwal dari jam 3:30 sore menjadi jam 11. Saya diminta sudah tiba pukul 10. Satu jam lebih awal untuk persiapan. Saya sudah tiba 5 menit sebelum pukul 10.
Tidak lama saya dipanggil masuk. 2 orang suster membantu saya. Ganti pakaian dengan baju rumah sakit lalu duduk untuk diambil tekanan darah dan sebagainya, lalu tangan kanan saya dicuci dengan spons khusus yag dikemas secara individual. Dokter tiba lalu tanga saya disuntik. Ini tahap yang menyakitkan. "the worst part is over!" kata salah seorang perawat. Hmm... pikir saya. Ini khan cuma disuntik walau memang sakit sekali karena sepertinya ada beberapa bagian yang ditusuk-tusuk. Saya kemudian mengerti karena beberapa menit kemudian tangan saya serasa sebesar gajah walau penampilan biasa saja dan saya tidak merasa apa-apa.
Sekitar 20 menit kemudian saya didorong ke ruang operasi. Nah di sini saya mulai ketakutan sebab ruangannya penuh mesin-mesin dan saya sangat terintimidasi. Saya melihat sekeliling dan merasa jadi salah satu aktor di film-film. 2 orang perawat dan 2 orang dokter bedah mulai bersiap-siap. Saya diberi selimut tebal yang sangat hangat yang membuat saya sangat amat nyaman. Baru sadar bahwa ruang operasi sangat dingin. Tahan saya dibersihkan sekali lagi dengan sebuah spons bergagang, cairan antiseptik berwarna kecoklat-coklatan. Di atas kepala saya ada 2 lampu sangat besar, mungkin beberapa kali lbh besar daripada lampu di dokter gigi. Saya merasakan keseriusan luar biasa.
Sesudah tangan saya dibersihkan, tubuh saya ditutupi semacam selimut yang sekali pakai dari bahan seperti kertas tebal berwarna biru. Saya sudah siap. Nah dokter bedan saya dibantu dokter satu lagi memakai baju operasi. Ini pertunjukan yang sangat keren dan sepertinya mereka sadar bahwa saya menonton. Lebih keren beberapa kali dari di film-film, bagaimana proses itu berjalan dengan mulus, bagaimana asisten dokter membantu berpakaian, dokter memutar tubuhnya meraih tali untuk mengikat.. wah seperti tari balet hahaha..
Sampailah pada bagian yang saya takuti. "Are you ready?" tanya dokter Stockburger. Saya jawab pendek mengiyakan. "Here you go!" kata dokter lagi. Dan saya merasa tangan saya ditekan-tekan. Saya lirik sebentar karena sungguh saya takut sekali. Ternyata dokter yang membantu sudah mulai mengusap tangan saya dengan kapas yang sudah berwarna merah. Ternyata yang saya rasakan sebagai tekanan-tekanan itu adalah sayatan-sayatan. Hmm... Benar juga kata suster tadi, bagian terburuk sudah usai; yaitu ketika suntikan anestesi yang sakit sekali itu. Ketika operasi saya cuma merasa seperti dipijat-pijat dan saya hanya mendengar bunyi gunting, seperti tukang cukur.
"Almost over." kata dokter beberapa menit kemudian. Wah ternyata cuma sebentar! Pikir saya. "Do you want to see your tendon?" tanya dokter. "Sure." jawab saya sambil agak ragu-ragu. Saya belum pernah melihat bagian tubuh dibawah kulit. Ragu-ragu tapi ngin tahu.
Saya melihat ada bukaan kecil di telapak tangan saya, mungkin antara1 hingga 2 cm. Dokter memasukkan alat kecil, mirip seperti alat di dokter gigi dari stainless. Lalu alat itu diangkat dan diatasnya ada urat berwarna putih sebesar beberapa milimeter. Mirip seperti urat di paha ayam, tapi lebih besar dan terlihat bisa bergeser maju mundur bila saya menggerakkan jari. Wow! Untuk pertama kalinya saya melihat bagian tubuh saya yang berada dibawah kulit. Bukan main, keren sekali. Begitu lugunya saya terpesona dengan bagaimana tubuh ini bergerak. Seperti melihat mesin yang bergerak, tapi ini "mesin" yang menggerakkan tubuh saya. Menakjubkan!
Para dokter bekerja sangat cepat dan efisien, beberapa menit kemudian saya sudah berada di ruang lain, berganti pakaian dan bersiap untuk pulang. Beda dengan rumah sakit di Indonesia, ketika akan pulang harus check out di bagian administrasi dll. Di sini suster lebih perhatian pada apakah ada yang dapat mengantarkan saya pulang. Nina sudah menunggu dan saya pulang. Saya tetap belum terbiasa walau ini bukan pengalaman pertama bahwa sesudah mendapat perawatan bisa pulang dengan begitu saja. Tidak ada urusan dompet atau kartu kredit. Urusan bayar bukan hal yang utama, yang penting pasien tertangani dan dapat pulang dengan selamat. Kalau saja di segala penjuru dunia berlaku hal semacam ini, tidak ada cerita pasien disandera tidak bisa pulang karena belum mampu membayar!
Beberapa hari ke depan saya akan menghadapi beberapa tantangan kecil. Saat ini saya mengetik dengan menggunakan 1 ibu jari tangan kanan, Ngetik tidak masalah. Makan tadi agak bersusah payah. Mandi nanti akan jadi tantangan tersendiri sebab tangan tidak boleh basah minimal selama 3 hari. Urusan kamar mandi memang bakalan seru, untung di sini tidak pakai gayung hahahaha.... Itu jadi gurauan saya di sosial media. Ya bayangan saja kalau saya harus membersihkan diri menggunakan gayung tapi hanya punya 1 tangan! Hahahaha Ini bakal jadi cerita seru!