Hari ini hujan turun sejak pagi, saya terbangun dan kaget. Kesiangan. Rencana awal mengajak anakku berolahraga di luar rumah akhirnya batal. Jadi sebagian hari kuisi dengan membuat kukis. Lagi? Iya, karena aku berhasil memberanikan diri setelah ditodong untuk menjual si kukis yang tempo hari kuceritakan tak pernah sama bentuknya itu.
Cerita awalnya gara-gara kakakku yang bekerja di Jakarta menawarkan pada salah satu kenalannya untuk mencoba kukis tersebut. Gayung bersambut, si teman menanyakan bisa buatkan beberapa untuk dijadikan hampers natal? Kata pertamaku tentu saja, HAAAA?? Dan mulailah kepala diisi dengan banyak ini itu yang seharusnya gak perlu ada. Cepat-cepat aku mempraktekan teknik memelankan nafas dan mengetik; Ok.
Singkat cerita, aku belanja bahan dan error. Kebiasaan grogi yang gak banget setiap kali ada pesanan khusus. Kali ini salah hitung bahan karena gak nurut sewaktu disarankan membuat tabel kebutuhan dulu. Tapi karena sudah belajar dari pengalaman sebelumnya untuk mencicil pekerjaan semua masih aman terkendali. Hanya tiba di hari ini, disaat bangun kesiangan dan sang kakak pagi-pagi buta sudah tiba di rumah, aku dengan riang gembira melapor kalau semua sudah selesai kukerjakan. Dan… ternyata aku harus membuat label kemasan. Cakep!
Tapi percayalah kepepet memang selalu bikin orang cepat dapat solusi. Apalagi kalau bukan dengan Canva si penolong disaat genting. Ta-daa! Label dadakan pun jadi dalam dua jam. Masalah terpecahkan? Oh tentu saja belum, karena ternyata aku salah ukur toples yang bagian bawahnya mengecil. Anakku yang ikut membantu lalu berkomentar, ‘bagian bawah beda 0.5 ml dan bubu perfeksionis’. Sekilas kami berpandangan dan tertawa sampai bercucuran air mata. Yasudahlah, Nak… kataku, kita sudah lakukan yang terbaik, setidaknya mengusahakan.