AES782 Sepi yang Berulang
Andy Sutioso
Monday March 31 2025, 10:44 AM
AES782 Sepi yang Berulang

Sejak penyelenggaraan Pasar Ramadhan, bahkan sebelumnya - sejak memasuki bulan Puasa, ada sesuatu yang berbeda. Setidaknya tidak seperti tahun sebelumnya. Suasana lebih hening, tepatnya lebih sepi. Judul ini saya tuliskan seperti di atas karena saya pernah menuliskan tulisan dengan judul serupa saat pandemi. 

Tanggal 28 kemarin saudara-saudara umat Hindu merayakan Nyepi. Mungkin kurang tepat kalau disebut perayaan ya - walaupun biasanya sebelum hari Nyepi, umat Hindu - terutama di Bali mengarak Ogoh-ogoh kemudian membakarnya - sebagai simbolisasi hancurnya kejahatan. 

Malam kemarin malam takbiran, menurut saya juga sepi. Tidak banyak yang takibran berkeliling. Seingat saya dulu banyak yang naik mobil bak terbuka, menabuh beduk dan melantunkan takbir. Tidak banyak juga suara petasan terdengar. Biasanya anjing di rumah sampai ketakutan karena suara petasan sambung-menyambung tak henti. Mereka sampai harus sembunyi di pojok ruangan sampai suara petasan mereda. Kemarin dan hari ini saya tidak banyak mendengar suara petasan. 

Mundur lebih jauh, sebetulnya ini terjadi juga saat perayaan Imlek kemarin. Sedikit sekali yang bermain kembang api. Bahkan saya ingat saat perayaan Tahun Baru, saat baru beberapa waktu memasuki tahun 2025, saya berada di jalanan kota Bandung dan melihat suasana yang lengang. Sepi. Tidak banyak yang konvoi tahun baru membunyikan terompet dan lain sebagainya. Oh iya bahkan yang berjualan terompet pun nyaris tidak terlihat. Padahal logika sederhananya, berjualan terompet atau kembang api adalah salah satu cara masyarakat mendapatkan pendapatan dari perayaan-perayaan hari besar yang ada. 

Logika sederhananya, suasana ini adalah gambaran dari kondisi ekonomi masyarakat - terutama masyarakat yang penghasilannya tergolong rendah. Hal-hal yang jadi bentuk perayaan seperti beli terompet, kembang api, petasan atau lainnya hilang - karena masyarakat konsumennya sudah kehilangan daya beli. Hal ini tentunya memprihatinkan. 

Sepinya sendiri saya sangat menikmati - karena saya bukan tipe orang yang senang berada dalam keramaian. Tapi kondisi ini tentunya memprihatinkan. Untuk kebanyakan masyarakat Indonesia, kebijakan pemerintah sangat berdampak bagi mereka karena keterbatasan penghasilan mereka. Lebaran hari kedua, saya pergi menggunakan transportasi online, seorang driver bilang, "Iya pak, kalo saya ga langsung narik, keluarga saya ga bisa makan". Sangat memprihatinkan... sementara para koruptor dan para birokrat di dalam sepinya juga mempermainkan uang negara. 

Bagi saya hari raya ini jadi gambaran yang suram. Hari raya tapi sepi, dan ini memprihatinkan... Bagi saudara-saudara yang merayakan Hari Raya Idul Fitri - semoga suasana ini tidak mengurangi makna dan hikmah dari ibadahnya - semoga hening yang ada justru membuat makna dan esensi yang mungkin terbenam oleh berbagai perayaan - lebih terasa. Semoga situasi ke depan juga berangsur membaik. Salam. 

Photo by Mohammad Hoque: https://www.pexels.com/photo/black-and-white-empty-urban-street-scene-31411889/