Jumat setelah acara tutup tahun di Lembang, saya ikut hadir daring di workshop yang diselenggarakan oleh PusKurJar. Sayangnya undangan kegiatan diterima ala tahu bulat (dadakan) jadi saya tidak bisa mengaturkan hadir, apalagi kegiatan dilaksanakan di Bekasi.
Topik bahasan mengenai Climate Change bukan hanya menarik, tapi juga penting. Urgensinya sangat tinggi. Sangat-sangat tinggi. Penting dan juga genting. Karenanya Semi Palar sudah lebih dulu menaruh perhatian untuk hal ini dan berusaha mengintegrasikan berbagai hal terkait kesadaran lingkungan ke dalam proses pembelajaran dan dinamika kehidupan di sekolah. Saya sendiri mengamati soal ini sejak tahun 2009 menyaksikan filem Inconvenient Truth yang dibuat oleh Al Gore. Filem buat saya sangat menggugah dan mendorong tumbuhnya kesadaran tentang pentingnya mejaga lingkungan hidup.
Herannya hari ini di tahun 2023, 14 tahun kemudian, masih banyak orang yang menyangkal bahwa pemanasan global itu nyata dan mengancam kehidupan kita semua. Masalahnya saya kira adalah karena kita semua belum sampai di tataran kesadaran. Hal ini juga berlaku bagi para guru dan kepala sekolah. Karenanya forum hari ini menjadi sangat-sangat penting.
Mengenai kesadaran ini sempat juga saya sharingkan di dalam forum ini, bahwa pertama-tama pengetahuan, wawasan (nyaho) tentang hal ini juga sangat penting. Harus cukup memadai sampai munculnya pemahaman (ngarti). Dua hal inilah yang akan memantik kesadaran. Kesadaran - menurut saya adalah hal yang paling perlu dijadikan sasaran di dalam penyelenggaraan pendidikan, karena kesadaran adalah sesuatu yang ada di dalam diri individu. Kita melakukan sesuatu karena punya kesadaran tertentu. Kesadaran inilah yang akan menjadi motivasi untuk melakukan sesuatu yang munculnya dari dalam diri kita masing-masing.
Terkait topik bahasan: Pendidikan Perubahan Iklim, saya kira judul itu juga sudah tidak lagi tepat karena sudah sejak beberapa tahun silam, aktivis lingkungan di dunia sudah menyepakati untuk mengubah tajuk yang dipakai. Bukan hanya iklim yang berubah, tapi juga bahwa perubahan yang terjadi sudah sampai di titik kritis. Perubahan tajuk ini, Climate Change menjadi Climate Crisis sebetulnya untuk menggaris bawahi urgensi tentang bagaimana kita semua perlu secara sadar mengubah banyak gaya hidup kita supaya mencegah kerusakan lingkungan menjadi lebih parah dan memperbaiki banyak hal. Saya sempat menuliskan tentang hal ini dalam esai berjudul Do We Still Have a Chance.
Krisis ini memang betul sudah terjadi karena kerusakan yang terjadi sudah melampaui enam dari sembilan Planetary Thresholds yang jadi titik-titik kritis penanda kerusakan lingkungan di atas muka bumi ini.
Workshop ini berlangsung dari pagi hingga sore hari. Peserta di bagi ke beberapa kelompok - saya bergabung di kelompok Diskusi Kebijakan Satuan Pendidikan, bersama beberapa rekan pengelola sekolah - termasuk di dalamnya hadir juga bu Wahya dari Sekolah Salam Jogja dan bu Tri Puji dari Jaringan Sekolah Alam Indonesia. Beberapa rekan seperti bu Maria Poerbo banyak berpengalaman mendampingi sekolah-sekolah di Indonesia Timur untuk mengembangkan pembelajarannya. Senang sekali bisa berkenalan dan berinteraksi dengan rekan-rekan yang hadir untuk berbagi pengalaman dan pemikiran.
Beberapa catatan penutup dari tulisan ini:
Salam.