Pernahkah kita merenungkan makna kalimat bahwa Manusia adalah makhluk Spiritual yang mendapatkan Pengalaman Kehidupan. Kalimat ini saya terjemahkan dari gambar di atas ini. Secara pemaknaan mungkin tidak terlalu sulit - tapi bagaimana menerjemahkan pemahaman ini ke dalam praktik kehidupan sehari-hari punya tantangannya tersendiri.
Tapi ya begitulah, bawaan saya sebagai seseorang yang profil Human Designnya Manifesting Generator. Ga bisa kalau ga tau. Pasti bawaannya pengen cari tau - bukan hanya tipis-tipis dikulitnya aja, biasanya saya telusuri secara mendalam.
Sesuai judulnya, saya mulai dari fisiologi manusia, jaringan syaraf yang terhubung melalui syaraf tulang belakang, nyambung ke batang otak dan terkoneksi ke otak manusia. Jaringan syaraf ini datang kita tahu terkoneksi dari seluruh anggota tubuh kita dan menangkap berbagai sinyal melalui 5 panca indera manusia. Seluruh sinyalnya tanpa henti dikirimkan oleh jaringan syaraf bolak-balik ke otak kita. Begitu kira-kira bekerjanya.
Lebih detail lagi, kita tahu bahwa manusia adalah spesies yang otaknya terbagi 3 bagian.
The primitive brain, also known as the reptilian brain or brainstem, is the oldest and most basic part of the human brain. It's responsible for controlling our automatic functions, such as:
1. Breathing
2. Heart rate
3. Blood pressure
4. Body temperature
5. Hunger and thirst
6. Sleep and wakefulness
7. Instinctual behaviors (fight, flight, or freeze)
The primitive brain is made up of the brainstem and the cerebellum. It's a vital part of our nervous system, and its functions are essential for our survival.
Here's a rough hierarchy of the brain's evolution:
1. Primitive brain (reptilian brain): Controls automatic functions
2. Emotional brain (limbic system): Processes emotions and motivations
3. Rational brain (neocortex): Handles thinking, reasoning, and decision-making
sumber : Meta AI
Morfologi otak manusia yang seperti ini terjadi setelah proses panjang evolusi manusia. Karenanya manusia masih punya otak primitif atau yang dikenal sebagai otak reptil. Otak reptil inilah yang pertama-tama mengelola berbagai masukan dalam bentuk rangsangan syaraf yang ditangkap melalui panca indera manusia. Bagian ini berkembang terutama karena kebutuhan survival (bertahan hidup). Bagian otak ini yang meregulasi mekanisme fight or flight (bertarung atau melarikan diri) terkait kebutuhan manusia untuk bertahan hidup di saat kehidupan manusia jaman dulu masih berhadapan dengan segala bentuk ancaman predator atau kondisi alam. Dari penjelasan di atas, otak primitif ini mengontrol fungsi-fungsi otomatis yang berupa refleks-refleks, reaksi spontan untuk kebutuhan bertahan hidup.
Kemudian di otak tengah dikelola berbagai olahan emosi. Salah satu titiknya adalah komponen otak yang sering kita dengar adalah amygdala.
The amygdala! A small but mighty almond-shaped structure in the temporal lobe, responsible for processing emotions, particularly:
1. Fear
2. Anxiety
3. Anger
4. Aggression
The amygdala's primary function is to detect and respond to threats, triggering the body's "fight or flight" response. This includes releasing stress hormones like adrenaline and cortisol.
Here are some interesting facts about the amygdala:
1. Emotional memory: The amygdala plays a key role in forming and storing emotional memories, especially those associated with fear or trauma.
2. Emotional regulation: The amygdala helps regulate emotions, but an overactive amygdala can lead to anxiety disorders, PTSD, or phobias.
3. Fear conditioning: The amygdala is involved in classical conditioning, where a neutral stimulus becomes associated with a fearful response.
sumber : Meta AI
Menariknya amygdala ini secara spesifik mengelola berbagai emosi seperti fear, anxiety, anger dan aggression. Saya kira ini masih berhubungan erat dengan kerja otak primitif dan proses panjang evolusi manusia.
Tulisan ini akan bersambung...