Memilih kata yang berbeda dari Spiritualitas yang cenderung 'jauh', 'berat' atau kelewat serius, saya mengambil pilihan kata Hidup Berkesadaran untuk tulisan yang ini. Tulisan sebelumnya adalah memang berjudul Spiritualitas itu Sederhana dan bisa dibaca di sini. Satu lagi yang dekat adalah tulisan saya yang berjudul Spiritualitas itu Dekat - bisa dibaca di sini.
Sejauh ini berbagai proses penelusuran, belajar, ngobrol, pengalaman dan perenungan yang saya lakukan - dalam konteks memahami apa itu manusia seutuhnya dan bagaimana laku kehidupannya yang semestinya. Pemahaman sementaranya saya simpan dalam tulisan ini.
Tulisan ini juga tentunya nyambung dengan tulisan dua tulisan sebelumnya, kepingannya ada di sana. Kenapa ini jadi penting, dan perlu terus kita upayakan untuk kita pahami karena proses panjang di Semi Palar menerapkan pendidikan holistik ternyata membawa kita semua ke titik ini.
Saya akan menggunakan dua kata memahami dan meyakini. Paham adalah kerja pikiran sementara yakin (keyakinan) lebih datang dari ruang batin / perasaan. Tapi kembali lagi karena perangkat utama yang kita miliki adalah badan dan pikiran, hal ihwal kesadaran dan berkesadaran juga perlu diolah secara konseptual, dipahami dan kemudian dijadikan pengalaman badaniah. Baru dari pemahaman dan pengalaman ini, kita perlu menggesernya menjadi keyakinan - sesuatu yang sifatnya batiniah.
Butir-butir pentingnya saya coba tuliskan lagi di bawah ini.
Saya ingin mengoneksikan ketiga hal ini saja - supaya sederhana. Supaya ga njelimet.
Jadi sepertinya untuk hidup berkesadaran, yang terpenting adalah menyadari bahwa segala proses kehidupan yang kita hadapi, apapun yang kita alami adalah perjalanan jiwa, proses spiritual kita. Dengan demikian setiap manusia yang kita jumpai sesungguhnya adalah guru spiritual kita, siapapun itu.
Saya kira, kalau kedua hal ini bisa terus kita bawa dalam kesadaran kita, kita akan bisa menjaga hidup kita terus berkesadaran. Segala sesuatu yang kita temui dalam pengalaman keseharian kita bergeser menjadi sesuatu yang sakral.
Saat segala sesuatu yang kita alami dalam kehidupan kita tempatkan menjadi sesuatu yang sakral, batin kita akan terus kita sapa, jiwa kita terus kita beri ruang untuk hadir dan membangun keutuhannya dalam kehidupan kita.
Bukankah ini bisa membantu kita menjalani kehidupan yang berkesadaran dan lewat cara ini kita terus bersentuhan dengan hakikat kemanusiaan kita sebagai makhluk spiritual. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Photo by Pok Rie: https://www.pexels.com/photo/silhouette-of-man-standing-on-seashore-412086/
Waduh kejadian lagi nih. Belum tuntas sudah dibaca dan dijempolin @gunawan-muhtar. Terakhir itu masih ruwet. Saya coba sederhanakan lagi. Mohon masukannya Gunawan. Hatur nuhuun. 🙏🏼😊
Rahayu @kak-andy
Terima kasih tulisannya.
Merespon seluruh kejadian yang kita alami, dengan pemahaman bahwa ini hanyalah bagian dari pengalaman rasa kesadaran kita untuk belajar, sudah sangat berspiritual.
Darinya akan lahir pemahaman akan segala sesuatu dari perspektif yang lebih luas, seperti jagat yang terus meluas dan berekspansi. Termasuk kembali menyadari bahwa kita bukanlah manusia yang mencari jiwa.
Tetapi jiwa, kesadaran individu, atman, ruh, atau apapun labelnya, yang sedang mengalami pengalaman kemanusiaan.
Pengalaman rasa menjadi manusia.
Terima kasih banyak tanggapannya Gunawan. Saya akan coba share ke beberapa teman Ngobras untuk lihat juga tanggapan mereka tentang ini. Apakah betul bisa menjadikan pemahaman Spiritualitas / Kesadaran ini cukup sederhana untuk dikonversi jadi laku dalam keseharian. 🙏🏼😊