AES341 Menelaah ke Dalam Diri
Andy Sutioso
Sunday April 24 2022, 10:57 PM
AES341 Menelaah ke Dalam Diri

Esai yang ini terinspirasi dari tulisan kak Wiwit yang berjudul Inner Light. Jujur saya ngefans sama tulisan-tulisan kak Wiwit yang selalu unik dan punya warna tersendiri. Saya mulai bisa menebak ini tulisan kak Wiwit sebelum saya melihat identitas penulisnya. Sebelum mulai menulis ini, saya mencari lagu Inner Light yang dituliskan oleh George Harrison. Saya sendiri ga ingat lagu ini, tapi setelah didengarkan ulang betul ya liriknya ajaib - nyambung betul sama apa yang kita bahas di hari Sabtu pagi sampai siang kemarin. 

Sabtu pagi kemarin sesi ke tiga saya mengajak kakak-kakak berbincang tentang Literasi Diri. Kali ini bersama beberapa calon kakak yang sedang dalam proses bergabung ke keluarga besar Semi Palar. Menemukan Kepingan Semi Palar kita mengistilahkannya. Literasi diri memang topik yang bukan sama sekali baru - tapi memang baru kita perdalam di TP17 ini, berawal dari pertanyaan mendasar:" Masih Bergunakah Sekolah?". 

Tapi kita semua bersepakat bahwa Sekolah masih perlu ada dan semakin penting. Tapi sekolah yang seperti apa? Semi Palar sebetulnya sudah punya jawabannya sejak awal, tersimbolisasikan lewat dua anak yang menggapai bintangnya masing-masing. Ya betul, Penemuan Diri - sebetulnya adalah esensi pendidikan. Teringat juga asal kata education - dari bahasa Yunani yang artinya menggali atau menemukan. Menemukan apa? Ya diri sendiri. Sempat dibahas juga bagaimana di dalam tradisi agama Islam ada kalimat yang luar biasa : "Siapa menemukan dirinya, akan menemukan Tuhannya". 

Entah apa yang terjadi dalam proses peradaban di mana sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan apapun itu namanya bisa lepas dari esensi pendidikan yang paling mendasar ini. Tidak heran kenapa peradaban begitu carut marut, seperti beberapa tulisan saya yang mencoba menelaah soal ini. Mungkin salah satu temuan yang paling mengherankan adalah bahwa segala permasalahan yang ada di luar, jawabannya ada di dalam diri. Ya itu yang perlu kita temukan seperti yang dimaksudkan oleh kak Wiwit sebagai Inner Light. In is the only way out

Kami juga membahas lagi kisah Nasrudin Hoja yang sibuk mencari kuncinya yang hilang di luar ruangan. Sewaktu tetangganya bertanya, Nasrudin menjawab bahwa kuncinya hilang di dalam ruangan. Sewaktu tetangganya bertanya kenapa mencarinya di luar, Nasrudin menjawab "Di dalam ruangan kan gelap, jadi saya mencarinya di luar". Mungkin kita semua seperti Nasrudin, sibuk mencari jawaban di luar diri. Karena kita merasa di dalam diri kita gelap. Padahal ada inner light di dalam setiap kita. Seperti kata ka Asep, kita itu seperti punya rumah di dalam diri yang tidak pernah kita kunjungi. Kita terus mijah, aprak-aprakan ke sana kemarin. Rumah kita sendiri tidak pernah kita kunjungi, bersihkan, hidupi... 

Sulit menggambarkan apa yang saya rasakan di sesi kemarin. Bahkan sayapun yang sudah membawakan materi yang sama untuk ketiga kalinya - di beberapa titik merasa sangat emosional. Entahlah banyak momen yang sangat menyentuh perasaan. Termasuk saat kak Fani mengajak kita untuk memeluk diri sendiri, menyapa, memaafkan dan mengajak diri untuk bersama-sama melangkah lagi. Nuhun pisan kak Fani. Juga kakak-kakak yang jadi bagian dari proses kemarin.

Jadi ya, mari menelaah ke dalam diri, melalui diam, melalui hening. Saat kita diam, hening dan tenang, kita akan mulai melihat pijar cahaya diri kita bersinar - semakin lama semakin terang...  Mudah-mudahan.

IMG20220423WA0006.jpg

Photo by cottonbro: https://www.pexels.com/photo/blindfolded-woman-with-a-lit-candle-5435267/

ratrikendra
@ratrikendra   4 years ago
Wah disambung ☺
Nuhunn, Kak Andy. Proses kemarin mengajak jauuh ke dalam 🙏🏼