Hari ini SMP Semi Palar diundang lagi untuk menjadi bagian dari proses evaluasi salah satu unit kerja KeMenDikBudRisTek, yang mengelola perihal buku pendidikan di dalam Sistem Pendidikan Nasional. Kesempatan langka dan ruang yang menarik bagi Semi Palar untuk bisa berbagi bagaimana Semi Palar secara spesifik menempatkan buku paket dan berbagai sumber belajar lainnya dalam proses belajar sehari-hari.
Di dalam forum FGD (Focused Grup Discussion) hari ini, saya bersama kak Fitri dan kak Mutia mewakili SMP Semi Palar diantara empat SMP Negeri dan Swasta di Bandung yang diundang berpartisipasi di dalam diskusi. Oleh moderatornya, diskusi segera dibuka dan kamipun memanfaatkan ruang diskusi untuk berbagi bahwa sejak tahun 2006, Semi Palar secara sadar mengambil keputusan bahwa para murid belajar tanpa berpegang pada buku paket tertentu. Merefleksikan keputusan yang diambil saat itu, hal itu adalah keputusan besar yang ternyata membebaskan para murid, guru dan orang tua dari salah satu hal yang menjadi belenggu proses belajar (dan proses berpikir) kita semua di Semi Palar sampai hari ini. Menariknya kementerian hari ini mengangkat konsep Merdeka Belajar
Masih cukup kental paradigma di para penyelenggara pendidikan, bagaimana murid belajar kalau tidak menggunakan buku paket. Belajar adalah gambaran anak-anak duduk rapi di bangku sekolah sambil memegang buku di tangan mereka. Bahkan pemahaman seperti inipun adalah belenggu bagi proses pembelajaran anak-anak kita.
Kemarin teman-teman KPB mempresentasikan proyek mereka Sinau di Pendopo Smipa. Seperti yang dicatatkan oleh Yuli dalam esainya yang berjudul Pengalaman, bagi saya tidak ada keraguan sedikitpun bahwa teman-teman K-12, kelompok Engklek belajar sangat banyak dari proses mereka menggulirkan 4 kelas Sinau selama dua bulan lampau. Bukan hanya belajar, mereka juga membawa kebermanfaatan bagi orang-orang lain yang terlibat dalam program ini... Proyek Sinau ini, adalah pilihan dan keputusan mereka... Merdeka belajar, mudah-mudahan demikian adanya.