Sore tadi selepas menunaikan kewajiban, aku melihat status kolegaku. Bukan sebuah kebetulan kurasa rejeki soreku dipertemukan secara gak langsung dengan seseorang yang namanya sudah kukenal lebih dulu dari buku Gambar Teknik, Pak Harry Lubis. Berusia 82 tahun masih dengan semangat dan terlihat segar beliau bercerita tentang hobinya membuat kolecer terinspirasi dari surat Al-A'raf ayat 57. Allah Akbar! Teringat saat meramu materi ajar bersama tim, sempat tercetuskan keinginan untuk bertemu dengan beliau. Sebanyak itu aku mengagumi beliau dan gak pernah tahu kalau beliau juga pernah menjadi Dekan Fakultas Desain di Unikom.
Cara kerja semesta memang selalu membuatku terkagum-kagum!
Aku mau bercerita sedikit tentang kolecer. Sebelum pak Harry, aku pernah mengenal dua kampung yang menempatkan kolecer ini bukan sekedar permainan rakyat tapi menjadi simbol dari suatu kegiatan masyarakat. Gak kepikir sebelumnya kolecer yang sudah diakui sebagai WBTB Indonesia itu justru memiliki makna budaya yang kental seperti dijelaskan oleh kang Zaini Alif, kolecer sebagai penguatan hubungan manusia dengan alam, yaitu angin.
Angin yang tak bisa dilihat bisa terlihat dengan berputarnya baling-baling serta menimbulkan suara yang syahdu. Peran angin jelas menjadi sebuah tanda peralihan musim dan berpengaruh terhadap pertanian. Tak heran di Cisayong, Tasikmalaya ada kampung kolecer tepat di daerah pemukiman dan pesawahan dataran tinggi. Begitu pula di kampung bolang, Subang. Kalau dilihat dari bentuknya kolecer ini terbagi menjadi 3 bagian besar, menurut filosofinya bagian ekor atau bubuntut ini sebagai simbol tekad. bagian tengahnya dan kolecernya sebagai simbol ucap serta putaran dunia, sedangkan bagian tiangnya sebagai simbol lampah.
Masih lekat juga dalam ingatan saat aku berkunjung ke kaulinan budak, kang Zaini menyebutkan banyak pesan yang terkandung dalam permainan tradisional. Inilah yang kubilang bukan sebuah kebetulan, memang rejeki soreku bisa melihat cuplikan video obrolan santainya orang berilmu, tetap saja ada pembelajaran disana. Aku yang dulu hanya sekedar memahami secimit cerita perkoleceran dari kang Zaini, hari ini ditambahkan maknanya dari apa yang menginspirasi pak Harry. Masyaa Allah.
Kereeen. Ini nih kearifan lokal yang banyak ditinggalkan manusia modern... Ditinggalkan, tapi ga punya arah juga mau menuju ke mana...