AES156 Braga Lagi, Braga Lagi !
carloslos
Thursday July 31 2025, 3:18 PM
AES156 Braga Lagi, Braga Lagi !

Halo teman-teman yang budiman, hari ini aku kembali ke tempat yang mungkin sudah bosan mendengar langkahku, braga ah Braga! Jalan tua dengan aroma sejarah yang masih tersisa di sela-sela retakan trotoar dan cat yang mengelupas di dinding toko-toko lawas. Seakan setiap sudutnya ingin bercerita, tapi lebih suka diam dan membiarkan kita menebak-nebak kisah di balik jendelanya yang buram.

Tujuan awal kami sederhana, bahkan agak remeh bagi sebagian orang: mencari kaset pita. Tapi bukan sembarang kaset pita, aku mencari Oasis band yang barangkali di masa lalu bisa mengisi luka-luka remaja dengan nada sumbang Liam dan petikan gitar Noel yang seolah bicara langsung ke dada.

Kami menapaki pasar antik Cikapundung, sebuah lorong waktu yang menjual ingatan. Di sana, barang-barang berserakan tapi bermakna: radio tua yang entah sudah berapa lagu diputar olehnya, kamera film dengan cerita yang tak pernah dicetak, dan tentu saja tumpukan kaset pita yang menunggu diputar ulang setelah bertahun-tahun sunyi.

Toko pertama sungguh lengkap, begitu katanya. Tapi Oasis sedang kosong โ€œLagi habis,โ€ ucap si penjaga sambil tersenyum. Lalu ujuk-ujuknya, entah kenapa tanganku justru mengambil kaset Celine Dion. Mungkin karena cinta memang datang tanpa bisa dijelaskan, seperti Celine yang muncul tiba-tiba di antara celah yang kutinggalkan untuk Oasis.

Di toko lain Oasis ada, tapi aku sudah punya. Dan apa gunanya dua kaset yang sama? Meski cinta pada band itu mungkin tidak ada duanya, tapi dompet tetap satu. Maka kami pun melangkah pergi.

Tujuan selanjutnya: Museum Mandala Wangsit. Tempat yang baru pertama kali kumasuki, tapi entah kenapa tidak terasa ramah. Dikelola oleh TNI, katanya. Mungkin itu sebabnya langit-langitnya tinggi, pencahayaannya temaram, dan benda-benda di dalamnya senjata-senjata rampasan dari berbagai medan perang yang diam namun menakutkan. Ada yang laras panjang, ada yang pendek, ada juga yang semi-otomatis, bahkan otomatis. Semua tersimpan dalam kaca, seperti luka yang dibekukan.

Kami terdiam lama di sana, mungkin karena rasa takjub atau karena rasa tidak nyaman. Sejarah seperti senjata, bisa membuat kita menunduk. Tapi yang membuat kami tertawa adalah saat hendak keluar, seorang pemandu (bisa dibilang begitu) tiba-tiba meminta sejumlah nominal. โ€œBayar lima ribu,โ€ katanya. Padahal saat masuk, katanya suka rela. Entah suka rela siapa.

Kami keluar dengan perasaan ganjil, tapi hidup memang seperti itu tak selalu jujur sejak awal.

Langit mulai cerah, dan kami pun mengarah ke Gray Art Gallery di Jalan Braga. Galeri yang kecil tapi padat dengan karya. Ada lukisan yang bicara lewat warna, ada instalasi yang seolah berbisik di sudut ruangan. Semua unik, semua menarik tapi tak semua bisa kuceritakan. Karena seni seperti perasaan, kadang lebih enak disimpan dalam hati daripada dijelaskan dengan kata.

Jadi begitulah hari ini, tapi entah kenapa Braga tak pernah membosankan. Karena seperti lagu lama yang diputar ulang, selalu saja ada bagian yang baru terdengar.

Andy Sutioso
@kak-andy   9 months ago
Dan kembali saya terhibur 'mendengar' Carlos berkisah lewat tarian kata-katanya. Terima kasih. Saya sangat menikmati ๐Ÿ™๐Ÿผ๐Ÿ˜Š
You May Also Like