AES 092 Optimize delays
leoamurist
Friday August 27 2021, 12:00 PM
AES 092 Optimize delays

we can have the cake, we can eat the cake. But not at once. Kira-kira seperti itulah bunyi hukum cara berfikir sistem yang ke sembilan. Jadi teringat Paradoks Zeno, bahwa gerak itu tidak ada dan satu tempat satu waktu hanya mampu menampung satu keberadaan.

Seperti meletakan pulpen di atas meja pada suatu posisi, walaupun kita tumpuk dengan pulpen lain itu sudah berbeda lokasi. Nol koma nol nol nol satu mili jaraknya. Bahkan kalau kita angkat pulpen lama dan menaruh pulpen baru yg persis sama di lokasi yang itu dengan super presisi pun, sudah berbeda lokasi. Nol koma nol nol nol satu menit jaraknya.

Jadi, gerak itu tidak ada. Yang ada hanyalah jarak dan perbedaan ruang-waktu. Saat kita memiliki kue seperti yang diceritakan di atas, itu suatu ruang dan waktu tertentu. Saat kita memakan kue seperti yang diceritakan di atas juga, itu suatu ruang dan waktu tertentu yang lain lagi.

Hubungan antara satu ruang waktu dengan ruang waktu yang lain itulah yang kita sebut dengan tundaan. Ada tundaan antara memiliki kue dengan memakan kue. Seberapa lama tundaan itu, itulah yang kita kelola. Pengelolaan nya mudah, kalau kita hanya berurusan dengan satu soal kue itu ya kita tinggal melakukan menunggu saja.

Kalau urusannya lebih dari satu, lebih dari sekedar kue, disitulah kita perlu mengelola tundaan. Misalnya, ada soal kue, ada soal janji ketemuan teman, juga ada soal menuntaskan produk yang dijanjikan. Tiga soal, yang masing-masing punya tiga ruang waktu (memulai, memproses, menuntaskan), masing-masing punya tundaan, dan semuanya berpusat di satu orang. Perlu optimasi tundaan nih, biasa disebut sebagai manajemen waktu.

Di sini lah kesadaran paradoks perlu dipakai, semacam mengurangi waktu bermain dengan teman karena mengerjakan tugas justru menambah waktu bermain dengan teman lho. Mudahnya, kalau menunda tugas untuk bermain pada akhirnya malah kehilangan kesempatan bermain karena mengejar tenggat di akhirnya. Kalaupun sudah tidak peduli tugas dan fokus bermain saja, kualitas pertemuan dengan teman itu rendah karena rasa tidak bertanggung jawab selalu menyelinap di pori-pori kulit dan tercium dari bau keringat.

Gimana dong kalau gitu biar bau keringatnya gak bau pelarian, malahan biar bau kebebasan. Gampang (soalnya diomongin, jadi gampang)! Langkah pertama, stop abai dan bebal! Apapun penolakan, apapun perbandingan, apapun alasan, apapun mendingan ini mendingan itu yang dijadikan pembenaran atau pembelaan diri. Itu semua abai dan bebal. Just stop it.

Kemudian, start inquiring! Membuka diri untuk belajar hal yang di luar kebiasaan, bukan kesukaan, perlu pengorbanan. Jelas adaptasi adalah gagang pintunya, kalau mau buka pintu ya pegang gagangnya kan baru tarik atau dorong atau geser. Sampai kapan? Sampai ladang gandum jadi koko kranch. Bukan lah, itu iklan sereal.

Sampai kapan, sampai semua yang kita omongkan di awalan selesai jadi kenyataan di waktu yang kita janjikan. Apapun hasilnya, aroma pelarian akan berbeda dengan aroma kebebasan, yang keluar melalui keringat saat ditanya, "Yang waktu itu kamu katakan, mana?"

joefelus
@joefelus   5 years ago
Terima kasih kak Leo. Asyik banget baca yang ini!
You May Also Like