AES 359 Maintaining My Cool
joefelus
Tuesday May 17 2022, 2:20 AM
AES 359 Maintaining My Cool

Hari Senin. Kampus terlihat lengang dan tempat parkir kosong, bahkan dekat kantor hanya ada 1 mobil terparkir, sisanya hanya slot-slot yang tidak berpenghuni. Liburan musim panas sudah di mulai, para mahasiswa pulang dan kampus kosong. Di musim panas biasa penuh dengan konferensi dan asrama dijadikan semacam "hotel" untuk para peserta konferensi dan pelatihan. Sejak pandemi, kegiatan semacam ini jauh berkurang bahkan di awal masa pandemi, kampus seperti ditinggalkan penghuninya karena semua kegiatan dibatalkan. Tahun ini semua akan kembali digalakan, bahkan istri saya bekerja untuk departemen yang mengurusi konferensi hingga bulan Agustus nanti.

Beban pekerjaan saya berkurang banyak! Dining Center di minggu-minggu awal kebanyakan tutup, hanya satu yang buka. Saya bahkan pergi kerja dengan mengenakan jeans dan sepatu kets, karena sedikit lebih leluasa dan bebas ketika para mahasiswa tidak ada. Berangkat ke tempat kerja dengan santai dan begitu rileks karena saya tahu tidak akan ada banyak hal yang akan bisa saya lakukan. Dan betul saja, hingga tempat kerja memang tidak banyak yang bisa dilakukan. Saya hanya butuh 3 menit untuk menyelesaikan pekerjaan, lalu bengong!

Akhir pekan kemarin saya mengalami beberapa hal yang menarik. Hari Sabtu saya menghabiskan pagi hari di kedai kopi sambil menulis esai. Di luar kedai ternyata ada kegiatan seru dimana ratusan orang melakukan semacam demo damai tentang hak wanita dan aborsi. Ya sekarang sedang ramai hampir di semua states ketika hukum mengenai pro choice dan pro life yang kembali digodok lagi di supreme court. Mereka menyerukan agar para perempuan bisa menentukan pilihan atas perlakuan pada tubuh mereka dan meminta pemerintah untuk tidak ikut campur. Itu saja. Saya yang memang selalu ingin tahu, sesudah ngopi dan selesai menulis, iseng-iseng bergabung. Mereka membagikan kaus, topi dan buttons gratis. Ini demo yang sangat amat damai. Mereka ingin suara mereka didengar dan melakukannya dengan simpatik. Jika saya bandingkan dengan demo di tanah air yang sering diwarnai dengan kericuhan dan caci maki, membuat demo yang saya saksikan di sini sangat menarik. Logikanya, jika ingin didengar tapi menyampaikannya dengan teriak-teriak dan makian, siapa yang mau dengar? Proses penyampaian harus yang santun sehingga mendapat simpati, bukan begitu? Yah lain padang lain belalang!

Peristiwa ke dua, saya alami di gedung bioskop. Seperti yang sudah direncanakan, kami bertiga menyaksikan film Dr. Strange yang terbaru. Kami duduk di tengah bagian atas belakang dengan seember besar popcorn, minuman dan kentang goreng dengan potongan ayam dan keju. Di sebelah saya ada 2 orang perempuan dari daerah tertentu di Asia yang kemudian sangat mengganggu saya sepanjang film karena banyak bicara dalam bahasa mereka. Nah ini buat saya sangat tidak sopan dan menjengkelkan karena mengganggu sekali.

Di awal saya sudah berusaha mengabaikan tingkah mereka karena saya maklum dari pengalaman-pengalaman sebelumnya kelompok orang-orang dari daerah ini memang sangat lack of manner. Pernah sekali bertahun-tahun yang lalu Istri saya memarahi beberapa orang karena meludah di sink di dapur umum di asrama kami tinggal. Pernah sekali juga kami memarahi seorang ibu yang membiarkan anaknya kencing sembarangan! Ini memang kelompok orang yang harus banyak belajar soal tata krama. Seharusnya mereka memang lebih mawas diri bahwa apa yang biasa mereka lakukan di negara mereka belum tentu cocok dilakukan di tempat lain. Yah sekali lagi, lain padang lain belalang! Hanya saja kelompok ini memang sangat ignorant. Mengingat ini semua, saya berusaha mengabaikan, dan berusaha maintaining my cool dengan berusaha menarik napas dalam-dalam, mengontrol perasaan terganggu saya, dan lebih berkonsentrasi ke film.

Sepertinya orang-orang ini memang sangat tidak peduli dengan sekelilingnya, ngobrol di tengah-tengah pertunjukkan memang bukan tindakan yang baik dan sopan. Akhirnya karena tidak berubah, saya bereaksi. Saya membuat suara,"sttttt...!!!" Dengan keras. Akhirnya mereka berhenti bicara, walau tidak sepanjnag film. Masih sekali-kali mereka ngobrol. Super-super annoying! Kalau anak-anak remaja, walau tetap tidak baik, saya masih sering memaklumi. Ini orang dewasa! Bukan main! Entah mereka itu benar-benar ingin menonton atau tidak, tapi mereka tertawa ketika adegan jauh dari lucu, dan menyerukan suara ketika semua orang hening! Benar-benar keterlaluan atau saya malah berpendapat, mungkin mereka (maaf) "bodoh", tidak mengerti jalannya cerita! Hahaha jahat ya!

Kejengkelan saya semakin bertambah ketika mereka menggunakan HP mereka. Ini sungguh tidak dapat saya diamkan. Di dalam bioskop tata kramanya ya mematikan telepon, bukannya ketika film berlangsung malah membuka layar telepon lalu melihat pesan atau bahkan scrolling layar! Benar-benar luar biasa mahluk-mahluk ini. Saya tetap berusaha menjaga diri agar tidak emosional walau saya menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa saya sangat terganggu. Saya terpaksa menutup telinga sebelah kanan dan menghalangi sedikit pandangan saya agar tidak terganggu cahaya telepon manusia tidak tahu aturan ini dan terus menikmati film. Kano bahkan berbisik,"Dad, they are very annoying, but please do not say anything!" Hahaha bahkan Kano sendiri sadar bahwa saya mulai meradang walau saya tidak berkata apa-apa. Dia dapat merasakan bahwa tubuh saya sudah tidak rileks lagi.

Film selesai, dan mereka bangkit dari duduknya. Sengaja saya tidak bergerak, kaki saya masih selonjor dan tempat duduk saya masih reclined. "Why should I let them go easily?" Itu yang ada dalam pikiran saya karena sungguh saya sebal. Mereka menyenggol kaki saya dan tanpa sadar saya mengucapkan sebuah kata. Bukan kata yang baik tapi dengan mohon maaf pada diri sendiri, saya butuh mengatakan sesuatu! Hahaha.. Ya saya kalah! Tapi saya merasa lebih baik setelahnya. Istri saya bertanya," Are you okay?" Saya Jawab," I am now, but I was pissed, those two girls had no manner, talking all the time and used her cellphone during the movie!" Seorang pria yang duduk disebelah mereka lewat dan ikut nyeletuk,"Yes! what the f.. was wrong with them!" Katanya dengan sangat jengkel. Belum selesai, sekelompok orang yang duduk di belakang kami ikut ngomel juga,"I could see the light from her screen the whole movie!"

Ternyata saya tidak sendirian! Yang merasa terganggu karena ketidak sopanan mereka ternyata banyak. I lost my cool a bit walau mereka memang berhak memperoleh perlakuan itu, tapi saya sungguh tidak bisa membenarkan apa yang saya katakan pada mereka. Mungkin lain kali saya akan menegur mereka baik-baik dan mengatakan bahwa yang mereka lakukan itu sangat tidak baik. Yang saya khawaturkan adalah jika reaksi mereka ketika menerima teguran, ini yang saya tidak terlalu siap karena saya mulai emosional dan memilih untuk menghindari konfrontasi.

Ada dua hal yang harus saya pelajari dan latih kedepan berkaitan dengan peristiwa ini. Yaitu berhenti melakukan stereotyping dan menghindari a priori. Pengalaman-pengalaman di masa lalu secara tidak sadar memang mempengaruhi pendapat saya dalam menghadapi situasi ini. Saya yakin mereka memang termasuk stereotype ini dan melihat tindakan mereka, a priori mau tidak mau hadir. Intuisi yang saya miliki memang tidak jauh meleset, tapi saya menjadi sadar bahwa ada beberapa titik lemah pada diri saya yang harus saya benahi. Bagaimana menyampaikan pesan yang konstruktif tanpa melibatkan emosi tidak mudah dapat saya lakukan, dan merupakan tantangan di masa yang akan datang untuk tidak kehilangan my cool!