Makan apa? Terserah. Gimana? Ngikut aja. Kemana? Bebas. Kapan? Yang paling pas aja. Siapa? Selain saya.
Menurut ini menurut itu, konteksnya apa dulu. Kalau secara ini begitu, kalau secara itu begini. Coba kita telaah terlebih dahulu, mulai dari kenapa. Coba kita bandingkan dengan yang terdahulu, menurut hal itu yang begini bagaimana. Sesuai dengan definisi dalam konteks sesuai dengan kebutuhan, perlu dipetakan kebutuhannya ada dulu.
Secara aturan ini tidak bisa begitu, secara aturan itu tidak bisa begini. Di sini koq begini, di sana aja begana. Di situ ya begitu, di sini ya begini. Nilainya apa, apa coba apa. Esensinya apa coba, coba apa. Yang benarnya bagaimana, bagaimana yang salahnya. Tergantung dulu, menurut siapa kapan dalam konteks apa relevansinya bagaimana.
Seharusnya tidak ada seharusnya, semestinya tidak ada yang mesti. Harus pasti dahulu baru bisa bergerak, tidak bisa berdasarkan asa rasa cipta karsa saja. Dimana-mana juga begimana-gimana, kemana-mana koq begitu-begitu aja. Kita perlu objektif tidak bisa impulsif. Ah, bahkan objektivitas itu impulsif kolektif. Eh tunggu dulu, kita diskusikan.