Pernah dengar peribahasa dalam bahasa Inggris, "When it rains it pours" ? Ini adalah semacam metafor yang sebetulya menjelaskan ketika dalam kehidupan kita dihadapkan pada banyak permasalahan yang bertubi-tubi, seolah-olah kejadian buruk yang satu terus menerus diikuti dengan kejadian buruk lainnya. Pada saat itu kita merasa bagaikan sebuah magnet yang terus menarus menarik hal-hal buruk tanpa henti.
Lucu sebenarnya jika dipikirkan. Hmm.. sepertinya kata lucu itu bukan istilah yang tepat. Ketika mengalaminya jangankan tertawa, bernapas saja sepertinya sulit. Tapi ketika kemudian semuanya sudah lewat, ada banyak hal yang dapat dipelajari. Setiap orang sepertinya juga mempunyai ketahanan diri, tergantung apakah yang bersangkutan menyadarinya atau tidak dan dapat memanfaatkannya untuk menghadirkan sesuatu yang lebih baik atau tidak.
Hahaha.. lagi-lagi saya membicarakan diri sendiri. Ya sudah tidak apa-apa, saya menulis blog atau esai ini utuk mengabadikan semua pikiran yang hinggap di kepala saya, atau merekam pengalaman pribadi agar tidak terlupakan. Sayang bukan jika pengalaman yang dapat dijadikan pelajaran kehidupan lewat dan terlupakan begitu saja?
Eniwei, itu yang saya rasakan belakangan ini. Sekarang sudah membaik dan saya sedang berusaha melihat kembali dan mengambil hikmah dari pengalaman itu. Sering kita berpikir bahwa banyak peristiwa buruk terjadi karena kita tidak beruntung. Semakin banyak hal-hal negatif yang kita pikirkan semakin banyak pula yang bermunculan. Seperti saya katakan tadi, seperti magnet. Hal negatif menarik hal yang negatif pula. Tapi jika direnungkan dalam-dalam. Mungkin saja serangkaian kejadian negatif itu tidak berhubungan sama sekali.
Contoh yang saya alami, kehilangan pekerjaan. Itu bukan karena saya tidak beruntung atau sedang sial, tapi memang karena ijin saya ajukan sangat terlambat. Hasilnya, surat ijin tidak tiba tepat waktu. Ketika saya tidak bekerja, keuangan saya terbatas, kendaraan saya butuh perawatan, ada kebocoran lalu juga harus ganti ban baru. Nah ini juga tidak ada hubungannya dengan kesialan, tapi karena memang sudah lebih dari 4 tahun usia ban mobil saya, waktunya untuk diganti. Pada saat itu Nina harus operasi lutut, itu juga bukan karena sial, tapi memang lutut itu sudah bermasalah sejak 30 tahun lalu, hampir dioperasi tadi doktor bedah tulang saat itu memutuskan untuk ditunda. Titik cerah mulai tampak, saya kembali kerja, eh hari pertama saya masuk kerja satu keluarga terkena covid! Ini mungkin juga ada penjelasannya, saya tidak tahu siapa yang terkena terlebih dahulu. Nina? Kano? atau saya? Kami semua berhubungan dengan banyak orang. Nina mengajar ratusan mahasiswa, saya berhubungan dengan banyak orang juga, Kano juga begitu di tempat kerjanya. Mungkin saja kami lalai tidak cuci tangan. Lebih parah lagi, Nina masuk rumah sakit, masuk ER lalu masuk ICU, sempat kritis dan hampir fatal. Ini juga ada penjelasannya. Cairan empedu membentuk sedimen dan membatu lalu menutup saluran sehingga terjadi infeksi. Infeksi tidak terdeteksi sehingga bakteri mulai memasuki peredaran darah, itu disebut sepsis, yang katanya 1 dari 3 orang yang terkena sepsis tidak berhasil diselamatkan. Syukurlah Nina bukan 1 orang itu.
Yang saya pelajari dari situasi-situasi itu memang terjadi secara beruntun. Masih ada beberapa lagi yang jauh lebih kecil terjadi tapi pada intinya, serangkaian peristiwa itu tidak berhubungan satu sama lain. Hanya karena terjadi hampir bersamaan, maka seolah-olah saya sedang dilanda badai hal-hal yang buruk terus menerus atau yang lebih dikenal sebagai series of unfortunate events.
Jika saya memilah-milah peristiwa-peristiwa itu, sebenarnya banyak hal-hal positif yang hadir di sana. Misalnya jika memang saya sedang mengalami serangkaian peristiwa buruk, mengapa di tengah-tengah rangkaian itu ada hal yang sangat baik? Jadi tidak benar bahwa itu adalah serangkaian ketidakberuntungan. Saya bahkan memperlajari sesuatu, yaitu kehidupan akan membalas dengan setimpal atas segala sesuatu yang kita tanam dalam hidup. Contoh sederhana, saya jarang sakit dan tidak pernah bolos dari pekerjaan, bahkan saya selalu tiba di kantor jauh lebih awal. 15 menit lebih awal setiap hari, ya saya memang rajin hahaha.. ternyata 15 menit/hari itu berbuah berlimpah ketika saya kehilangan pekerjaan. Universitas tempat saya bekerja membayar jatah cuti saya ditambah jam-jam lembur yang saya kumpulkan dengan datang 15 menit lebih awal setiap harinya. Itu jumlahnya lebih banyak dari gaji bulanan saya. Ban mobil saya dapat terbayar, ditambah biaya hidup linnya. Nah itu satu!
Kedua, kita harus selalu berusaha berpikir positif. Ini yang benar-benar terjadi. Kami menunda kepulangan ke tanah air karena memang Nina harus dioperasi dan semesta memberikan jalan ketika Nina diminta untuk mengajar sebab banyak dosen yang sabatikal. Dengan mengajar asuransi kesehatan, biaya kuliah ditanggung fakultas sehingga operasi bisa dilakukan. Mengetahui ini artinya kami harus tinggal lebih lama dan saya harus tetap bekerja sehingga saya harus segera mengurus ijin kerja yang habis di bulan Agustus. Memang akhirnya ijin itu terlambat tiba sehingga saya kehilangan pekerjaan, tapi dengan tidak bekerja saya selama 2 bulan dapat merawat Nina. Ya semesta sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Ketika Nina sudah bisa mandiri, saya mendapat kembali pekerjaan lama. Sempurna sekali bukan? Sampai situ cerita belum selesai! Tunggu dulu. Baiklah, saya tidak tahu bagaimana menyisipkan covid agar cocok dalam rangkaian ini. Ini hanya kebetulan saja. Tapi cerita yang berikut ini adalah keajaiban, mukjizat yang saya alami. Dengan tertundanya kepulangan kami, Nina mendapat akses pelayanan kesehatan yang sangat sempurna. Itu yang menyelamatkan dia. Dokter-dokter yang sangat piawai dalam menjalankan pekerjaannya, bahkan ketika sudah diluar jam kerja masih terus sibuk berusaha menelepon kami agar Nina segera masuk ER, segera di MRI dan Cat Scan. Perawat-perawat yang sigap ketika Nina memasuki saat-saat kritis sehingga dapat segera pindah ke ICU. Tertundanya kepulangan kami karena semesta memiliki rencana yang lebih penting daripada hanya sekedar kelulusan. Yaitu menyelamatkan Nina. Ya, tidak ada hal negatif yang selama ini saya alami. Semuanya itu sempurna, hanya pandangan saya, pemikiran saya saja yang negatif! Jika memang itu benar-benar negatif, setidak-tidaknya semua itu mengarah kepada hal-hal yang jauh lebih baik!
Tidak ada kebetulan dalam hidup ini, kalaupun ada, itu adala cara Tuhan untuk tetap menjadi anonimous, coincidence is God's way to be anonimous!
Foto credit: calmclinic.com