Dari kecil aku adalah seseorang yang handal dalam monolog. Bukan cuma sekadar ngobrol sendiri, tapi ngobrol seolah-olah aku sedang jadi pembawa acara atau punya tamu istimewa yang nggak kelihatan. Bayangin anak SD yang duduk di sudut kelas sambil ngomong sendiri kayak lagi syuting talk show, dan itu adalah aku.
Dulu, temen-temen di sekolah sering nanya, “Ngapain sih lo ngomong sendiri?” Aku cuma senyum dan jawab, “Lagi latihan jadi orang penting.” Padahal kenyataannya, aku merasa lebih nyaman ngobrol sama teman imajiner daripada ikut main petak umpet dan dihitung jadi penjaga terus-terusan. Teman imajinasi itu nggak pernah nge-judge atau nyuruh aku cari tempat sembunyi yang lebih kreatif.
Kebiasaan ini nggak hilang sampai sekarang. Bedanya, kalau dulu aku ngomong sendiri sambil main mobil-mobilan, sekarang aku ngobrol sendiri sebelum tidur. Tapi siapa peduli? Rasanya kayak lagi jadi YouTuber sukses dengan jutaan penonton, meskipun kenyataannya cuma ada aku dan bayangan di dinding.
Kadang, monolog ini bisa jadi sangat serius. Aku ngomongin rencana hidup, evaluasi hari, atau bahkan isu global (padahal siapa yang dengar?). Tapi di sisi lain, ada juga saat-saat di mana monolog ini berubah jadi hal yang absurd seperti:
Dan anehnya dari semua obrolan itu, aku merasa lebih produktif. Kayak punya ruang khusus buat berpikir tanpa distraksi.
Tapi ada satu momen yang bikin aku sadar, kebiasaan ini emang unik. Suatu malam, adik aku masuk ke kamar tanpa hujan. Dia lihat aku lagi ngomong sendiri sambil gestur kayak vlogger yang lagi ngejelasin sesuatu. Dia nanya, “Kamu telepon siapa malam-malam?” Aku cuma jawab, “Enggak, lagi briefing sama diri sendiri.” Reaksinya? Geleng-geleng kepala sambil keluar kamar.
Buat aku monolog adalah cara paling seru untuk mengenal diri sendiri. Kadang lewat ngobrol sama diri sendiri, aku bisa nemu solusi dari masalah yang nggak kusadari sebelumnya. Atau ya minimal aku merasa nggak sendirian meskipun lagi sendirian.
Jadi, kalau kalian pernah merasa aneh karena suka ngomong sendiri, tenang aja. Kita nggak aneh, kita cuma kreatif. Karena siapa tahu, monolog yang kita lakukan hari ini bisa jadi bahan cerita lucu buat masa depan. Atau kalau lebih ekstrim lagi, jadi persiapan buat TED Talk yang mungkin nggak pernah ada. Tapi hei, nggak ada salahnya siap-siap, kan?