AES070 - Mendengar dengan Mata
Ara Djati
Wednesday October 30 2024, 7:22 PM
AES070 - Mendengar dengan Mata

Lembaga Studi Realino adalah tempat yang sejuk dan rimbun. Bangunannya kuno, sepi. Tempat berlabuh setelah lengket-kental-mengantuknya matahari Jogja itu. Dia tampaknya tidak banyak berubah sejak pertama aku mengunjungi, bisa jadi sejak dibangun pertama kali juga belum banyak berubah. Terasa seperti sebuah kapsul waktu, dengan temboknya yang berdebu segar, pohonnya yang besar dan hijau. Ini adalah Alasan Utama Kedua aku ke Jogja, hari Selasa kemarin.

Romo Budi adalah seorang antropolog, direktur Realino, dan seorang dosen di Sanata Dharma. Beliau adalah orang yang ramah, teman ayahku. Dengan gembira ia menyambut kami, membawa kami ke kantornya di gedung Realino. Begitu pintu dibuka, harum buku lama yang agak lembab menyambut kami. Rak-rak kayu kuno berjejalan dengan buku dan kertas, tersusun berbentuk lorong di sudut ruangan. Sebuah meja, lagi-lagi kayu, terletak di sudut lain; memunggungi rak buku lain lagi. Benda-benda aneh dan menarik terpajang di mana-mana: patung landak, lukisan, buku foto, tong sampah bergambar Hello Kitty KW yang tampak sangat salah tempat. Kami duduk di sofa.

Seperti yang sebelumnya kubilang, Romo Budi adalah orang yang ramah. Beliau gesit berpindah-pindah topik, memastikan lawan bicaranya tetap terikat pikirannya kepada hal yang dibahas. Dengan orangtuaku, beliau berbicara tentang macam-macam, tentang nama-nama yang tak kukenal dan masa-masa sebelum aku lahir. Denganku, beliau berbicara tentang hal-hal yang makin membingungkan lagi.

Beliau sempat membaca esaiku paska-Ekspedisi Kampung Adat, tentang budaya mengenai padi di Banten Kidul. Kami banyak mendiskusikan hal-hal yang kutemukan di sana, mulai dari makanannya hingga cara mereka memandang orang luar. Kami juga berdiskusi tentang berbagai perbedaan masyarakat Tionghoa di Jawa Tengah dibandingkan di Jawa Barat, topik yang bagiku sangat menarik dan berpotensi dijadikan bahan riset lebih lanjut bagiku. Lalu, beliau banyak bertanya tentang hal-hal aneh: saat menulis, dengan apa kamu menulis? Dengan mata, hidung, mulut? Apakah kamu melihat dengan telinga, atau mendengar dengan mata? Menulis dengan lidah?

Yang makin membuat bingung adalah, setiap kali aku berusaha menjawab, beliau malah tertawa. “Ah, itu tidak perlu dijawab! Nanti kamu akan makin bingung.” Tapi justru aku jadi semakin bingung lagi. Tapi aku menikmati kunjunganku. Semasa kecil dulu, aku sering membaca buku dengan tokoh-tokoh enigmatis yang selalu menjawab pertanyaan dengan lebih banyak pertanyaan lagi. Hanya ada segelintir ekivalennya di dunia nyata, tapi kalau ada, rasanya selalu ada sesuatu yang menarik bagiku.

joefelus
@joefelus   2 years ago
Very interesting! Thanks for sharing!
Ara Djati
@ara-djati   2 years ago
Thanks!
You May Also Like