"Mana gua tau! Emangnya gua dukun?" atau "How should I've known? I am not a mindreader!" Kata-kata itu sering sekali muncul ketika kita sedang mengalami konflik dalam komunikasi. Silahkan pilih ungkapan mana yang lebih cocok, yang bahasa Inggris terdengar keren, tapi yang bahasa Indonesia lebih mantap apalagi pakai kata dukun! hahaha!
Interaksi dan komunikasi antar pribadi memang perlu ketrampilan yang baik. Menyelaraskan pikiran dan asumsi tidak selalu lancar karena kita cenderung menganggap orang lain proses berpikirnya serta pemahamanannya sama dengan yang kita miliki padahal pada kenyataannya tidak demikian. Selalu ada bias dalam komunikasi karena ketidakselarasan, ketidaksamaan pemahaman. Itu terjadi setiap kali dan akan terus sering terjadi. Lebih parah lagi jika ketidakselarasan dalam pemikiran dan pemahaman itu ditambah dengan bumbu emosi. Jadi ramai!
Kita selalu berpikir bahwa orang lain tahu apa yang kita ketahui, orang lain paham dengan apa yang kita pahami. Kita dengan sangat mudah berasumsi dan sering overestimate bahwa orang lain memiliki pengertian, intensi dan tindakan yang sama dengan yang kita miliki. Kita bertindak dalam ilusi tranparansi. Sekali lagi ilusi, artinya yang kita asumsikan itu tidak benar. Kita melompat ke dalam sebuah kesimpulan yang salah karena ada bias dalam pengertian dan pemahaman. Di sini komunikasi dalam frekuensi yang sama harus ditekankan, jika tidak maka komunikasi yang sedang terjadi tidak akan pernah menghasilkan titik temu.
Seperti yang saya tulis di esai sebelumnya tentang perbedaan antara mendengar dengan mendengarkan, mungkin kita harus lebih sering memberi porsi yang cukup untuk mendengarkan, bertanya tanpa langsung lompat dengan asumsi. Dengan demikian komunikasi kita berada dalam frekuensi yang sama sehingga dapat menghindari konflik. Emosi harus kita kesampingkan, karena seringkali komunikasi yang dilakukan dengan emosional tidak berakhir dengan baik dan emosi menutup telinga dan pikiran kita lalu berakhir dengan keruwetan.
Ada sebuah penelitian dilakukan terhadap satu atau dua grup. Penelitian itu dinamakan "tappers" atau ketukan. Seseorang diminta mendengarkan sebuah lagu yang sangat terkenal lalu diminta mengetukkan irama lagu itu tanpa bersenandung atau menyanyikan lagu tersebut. Orang lain yang tidak mendengar lagu itu harus menebak berdasarkan ketukan. Orang yang mengetuk berasumsi bahwa kemungkinan 50% orang yang menebak dengan ketukan akan mampu menebak lagu. Ternyata hanya 3 dari 120 lagu yang dapat ditebak. Hanya 2.5% saja!
Jadi dapat disimpulkan bahwa jika kita ingin dapat berkomunikasi lebih baik, maka kita harus benar-benar mengetahui apa yang orang lain pikirkan, sejauh mana pengetahuan orang itu, dan apa yang mereka rasakan. Jangan pernah berasumsi apalagi melompat ke kesimpulan. Sesudah ada keselarasan, maka komunikasi akan dapat berjalan dengan baik.
Foto: cen.acs.org