Keputusan saya untuk tidak masak pada hari Thanksgiving ternyata bukan merupakan sebuah keputusan yang baik. Untuk istirahat memang bagus, selain membuat nasi goreng untuk brunch, boleh dibilang saya tidak melakukan apa-apa, hanya nonton pertandingan sepak bola, walau mungkin Kano atau Nina agak jengkel mendengar saya ngomel-ngomel terus ketika menyaksikan pemain sepak bola terlalu cengeng, tersenggol sedikit saja para pemain itu seperti baru saja ditabrak traktor berguling-guling lalu 30 detik kemudian bisa berjalan seperti tidak pernah terjadi apa-apa!
"Dad, maybe it's better just watch the highlight after the game is over." Kata Kano.
"That's true." Jawab saya.
Yang menarik mengenai nonton sepakbola adalah saya bisa nonton sambil melakukan hal lain seperti menulis misalnya, karena pada dasarnya tidak banyak yang terjadi di lapangan kecuali saling mengoper bola atau pura-pura tertabrak traktor (hahaha), selebihnya saya hanya menunggu ketika mendekati gawang. Dengan cara begitu saya masih produktif, ngomel berkurang, dan kalaupun terlewat jika ada goal, selalu ada replay, jadi memang cukup convenient.
Lalu kenapa keputusan tidak memasak itu tidak baik? Karena semalam sepulang dari nonton kami kesulitan mencari makan. Pada saat itu saya sadar bahwa informasi di internet tidak selalu reliable. Buktinya ketika saya search restoran yang buka di hari libur Thanksgiving, tampil sekian banyak pilihan tetapi begitu kami datangi, tempatnya gelap gulita! Akhirnya saya telepon satu persatu tanpa ada jawaban.
Yang lebih parah lagi adalah gerai hamburger. Saya buka aplikasi yang saya miliki di HP, saya begitu gembira ketika ada notifikasi bahwa mereka buka hingga pukul 11 malam. Saya bisa saja memesan di aplikasi telepon genggam, tapi saya memutuskan untuk pergi ke sana dan bisa memesan ketika berada di tempat parkir. Cuaca cukup dingin, karena sebetulnya kemarin malam harusnya turun salju tapi tidak terjadi jadi saya bergegas ke kendaraan dan meluncur ke gerai tersebut, hanya butuh waktu 3 menit karena hanya sekitar 2 blok saja jauhnya. Sampai di sana saya gembira penuh harapan karena tempat itu terang benderang, jalur untuk drive thru juga terang bahkan panel tempat memesan menyala. Saya berhenti di tempat parkir melihat ke dalam, ruangan terang benderang tapi kursi-kursi sudah ditumpuk di atas meja, jadi saya yakin tidak bisa masuk sehingga memilih menggunakan pelayanan drive thru, apalagi saya barusan lihat ada kendaraan yang berhenti di lokasi pemesanan. Saya menuju ke sana. Di depan ada kendaraan sedang menunggu di pemesanan, lumayan lama. Akhirnya saya mendapat giliran. Jendela saya buka dan menunggu. Tidak ada suara apa-apa, biasanya ada suara seseorang memberi salam lalu menanyakan pesanan. 5 menit berlalu, tetap tidak ada suara, akhirnya saya menyerah. Saya mengemudi perlahan-lahan, gerai itu terang benderang tapi tak terlihat satu manusiapun! Hahaha.. Tertipu! Saya pulang dengan kecewa dan harus menerima nasib mekan apa adanya. Thanksgiving kali ini saya tidak mengalami food coma, tapi justru kelaparan hahahaha!
Foto Credit: eater.com