Ada sebuah pengalaman baru saya rasakan beberapa waktu terakhir ini, walau sebetulnya saya akui bahwa ini bukan perasaan yang pertama kali menghantui diri saya. Menjadi anggota kelompok minoritas sudah mendarah daging sejak kecil. Saya mengerti dan juga merasa kebal mendapat perlakuan berbeda dari orang lain. Itu sudah merupakan keseharian saya sejak kecil. Jadi ya bukan sesuatu yang baru. Tapi pengalaman di rantau ini kurang lebih merupakan hal yang baru.
Kebetulan saya selalu menjadi orang yang beruntung ketika hidup di rantau, bahkan jika memperhitungkan urusan karir, di rantau justru merupakan puncak-puncak karir saya, dari segi posisi maupun penghasilan termasuknya amat sangat baik. Nah, baru sekarang saya merasa ada di sisi yang bersebelahan. Dimulai dengan kehilangan pekerjaan kemarin yang secara otomatis saya juga kehilangan semua benefit yang ditawarkan oleh pekerjaan itu, salah satunya yang paling penting adalah asuransi kesehatan.
Nah, ketidak-beruntungan itu berlanjut, saya jatuh sakit. Kena Covid tanpa bisa memperoleh perawatan yang memadai oleh tenaga kesehatan. Ya itu tadi karena saya tidak punya asuransi kesehatan. Covid sudah berlalu, walau kondisi tubuh saya belum pulih dan batuk saya belum juga hilang, 4 hari terakhir ini saya terus menerus kecegukan. Ini saya nilai mulai menjadi serius karena selama 4 hari on dan off, kalau dihitung-hitung mungkin sudah lebih dari 25 kali. Ini pasti ada apa-apa.
Nina sudah mulai khawatir dan berusaha mencari dokter atau klinik yang menerima pasien tanpa asuransi. Tentunya biayanya jauh lebih tinggi jika memiliki asuransi. Biasa saya pergi ke dokter hanya mengeluarkan sedikit uang, biasa uang pendaftaran antara $15 hingga $30 dollar tergantung dokter apa, jika spesialist maka uang pendaftaran $30. Obat-obatan juga termasuknya murah, 1 macam obat saya hanya mengeluarkan uang sekitar $10. Tapi jika tanpa asuransi harga melonjak berkali lipat. Itu gambarannya.
Sejak semalam Nina berusaha membantu saya mencari klinik-klinik yang buka dan bisa walk in. Pagi hari saya sudah berkendaraan. Tiba di klinik pertama, seperti rumah hantu, sepertinya klinik ini sudah lama tutup. Lalu Kami meluncur ke klinik ke-2. Gedungnya megah, tetapi begitu masuk begitu hening walau tempat ini sangat amat bersih dan terlihat mewah. Seorang ibu membantu saya di tempat pendaftaran dan saya ditolak. Hahaha.... padahal klinik ini mengatakan mereka tidak akan menolak siapapun! Saya keluar gedung dengan perasaan terganggu. Perasaan sebagai seorang kelas 2 atau kelas "tidak penting" langsung terasa. Menyakitkan!
Jujur saja, saya sudah berusaha seumur hidup untuk menghindari perasaan seperti ini. Tahu sendiri di tanah air untuk urusan surat menyurat saja kita seperti orang yang menghiba-hiba, rasa tidak berkemanusiaan walau sekecil apapun selalu terasa. Di Tanah air, saya paling tidak suka berurusan dengan orang-orang pemerintah, dari kelurahan, kecamatan dan sebagainya saya sudah merasa terintimidasi seolah-oleh sebagai pesakitan karena kadang harus berhadapan dengan oknum yang arogan. Beda sekali jika kita masuk ke kantor Bank misalnya, begitu di depan pintu, satpam sudah membukaan pintu dan disambut dengan sapaan manis. Bukan itu yang saya harapkan, kadang memang berlebihan, tapi yang saya inginkan adalah pelayanan yang manusiawi. Harus diingat, orang pemerintah itu digaji dari pembayar pajak, dan saya salah satunya, jadi sudah selayaknya mereka memperlakukan masyarakat degan manusiawi bukan mengintimidasi. Apakah arogansi ini adalah warisan dari konolialisme? Saya tidak tahu, yang jelas seringkali kekuasaan menjadikan seseorang berbeda. Buktinya orang itu langsung berubah ketika mamakai seragam keamanan di kampung. Begitu dia memakai seragam hansip misalnya dan bertugas sebagai pengatur parkir, langsung dia merasa jadi penting dan tingkahnya seperti jendral yang semena-mena. Saya lihat sendiri itu. Begitu seragam lepas langsung jadi manusia biasa lagi. Aneh!
Eniwei, itu yang mengganggu saya pagi ini. Untuk mendapat perawatan kesehatan saya harus berusaha kemana-mana tanpa hasil yang jelas. Ada satu tempat yang menawarkan jasa kesehatan, tanpa perlu membuat reservasi malah. Nina bertanya berapa biayanya, dijawab ratusan Dollar. Hahaha.. Sial! Kami sudah hampir nekad berangkat, tiba-tiba ada telepon masuk. Tadi pagi Nina berusaha menghubungi klinik yang dikelola oleh sebuah gereja. Isinya dokter-dokter volunteer yang merawat pasien tanpa biaya. Kita tidak bisa membuat reservasi langsung kecuali meninggalkan nomor telepon lalu mereka akan menghubungi. Nah kami yang hampir masuk kendaraan untuk ke klinik yang akan membuat saya membayar ratusan dollar, tiba-tiba ditelepon. Kami diberi slot bertemu dokter pukul 6:45 sore. Ya sudah, saya batal ke klinik pagi ini dan memilih yang tidak berbayar malam nanti.
Nah pengalaman ini membuka mata saya agar tetap tidak berbangga diri ketika sedang dalam kondisi baik, sebab ada kalanya kita juga menghadapi jatuh bangun dan terhempas ke kondisi yang tidak menyenangkan seperti saat ini. Pelayanan kesehatan itu merupakan sebuah kemewahan, tidak semua orang mempunyai privilege dapat mendapat pelayanan kesehatan dengan mudah. Ini pertama kali saya rasakan ketika berada di rantau. Dan perasaan semacam ini yang memang sudah merupakan luka di masa lalu, terasa tidak jauh berbeda sakitnya. Ini mengajarkan saya untuk selalu mawas diri.
Foto Credit: inview.lawvu.com