Mudah-mudahan ini tulisan terakhir saya dari proses mengamati Pemilu kali ini. Saya tuliskan ini sebagai satu catatan dalam proses yang dilalui oleh kita Warga Indonesia yang memiliki hak pilih, sekaligus juga punya tanggung jawab sebagai warga negara untuk menentukan masa depan bangsa dan negara Republik Indonesia. Saya menuliskan ini dalam konteks Semi Palar sebagai lembaga pendidikan.
Beberapa waktu lalu, saya ingat, kakak-kakak KPB sempat mengajak teman-teman di KPB untuk membahas dan memahami lebih dalam soal Etika. Catatan singkatnya ada di sini. Terkait judul di atas, konteksnya memang Pemilu yang prosesnya bagi saya saya sangat-sangat memprihatinkan. Kebetulan saya sangat mengikuti proses yang berjalan dari waktu ke waktu. Entah berapa puluh bahkan ratus video Youtube yang saya ikuti dan mencoba memahami dan mengambil kesimpulan tentang apa yang sedang terjadi. Motivasinya apa sebetulnya saya cukup berharap, bahwa pemimpin Indonesia paska Jokowi adalah pemimpin yang bisa membawa bangsa Indonesia maju, masyarakat Indonesia sejahtera. Dalam konteks global - bahasa kerennya geo politik, saya bisa membaca bahwa negara-negara lain sedang sangat berharap Indonesia bisa dikendalikan untuk kepentingan-kepentingan mereka. Tentang ini saya tidak akan bahas di sini.
Kemarin proses pemilihan umum dan pemungutan suara - sampai keluarnya hasil hitung cepat menunjukkan sesuatu yang bagi saya memprihatinkan. Bukan soal siapa yang terpilih, karena siapapun yang terpilih - kalau itu adalah murni pilihan rakyat, adalah sosok yang memang dipercaya untuk memimpin - apapun alasan dan pertimbangannya. Yang jadi masalah adalah berbagai proses di belakangnya yang penuh kecurangan. Puncaknya adalah kasus di MK, di mana etika diinjak-injak, dan ihwal moralitas dilangkahi - semata karena hasrat kekuasaan. Dari situ kalau ditelusuri terus begitu banyak hal yang terjadi, dan begitu banyak hal yang dilakukan dalam proses persiapan Pemilihan Umum ini yang menodai proses demokrasi. Dipahami betul bahwa politik adalah masalah kepentingan, dan kita perlu memilih orang-orang yang bisa betul-betul mewakili kepentingan rakyat - bukan kepentingan pribadi atau golongan.
Dalam konteks pendidikan, hasil hitung cepat kemarin, salah satunya adalah gambaran tentang literasi - dalam hal ini literasi politik. Masyarakat kita memang tidak paham betul konteks besar dari proses politik dan segala sesuatunya. Mereka hanya paham apa yang ada di kulitnya - lewat apa yang secara gencar dipaparkan melalui media sosial yang instan - yang ditelan mentah-mentah tanpa memahami betul apa yang ada di belakangnya. Hal ini tentunya adalah isu pendidikan, tentang kemampuan membaca situasi, memahami dan berpikir kritis. Dari apa yang teramati di masyarakat - saya yakin masyarakat kita tidak bodoh, tapi masih sangat mudah dikelabui. Tentunya hal ini sangat-sangat menyedihkan.
Kedua yang saya soroti adalah bagaimana kita perlu mendidik anak-anak kita agar bisa bertumbuh kembang dan menggenggam erat apa yang disebut dengan Etika dan Moralitas. Ini yang jadi problematika proses demokrasi di Indonesia karena persoalan etika dan moral tidak diindahkan sama sekali. Etika dilangkahi, Moralitas diabaikan. Hal ini yang dimainkan dengan luar biasa cantik oleh penguasa dan yang ingin berkuasa di Indonesia. Kesadaran ini tentu perlu dipegang erat oleh kita semua para pendidik - dalam mendampingi proses belajar generasi muda kita, supaya bangsa dan negara kita maju.
Maju dalam pemikiran, kesadaran, sikap dan tindakan. Seperti apa yang disebutkan dalam salah satu baris larik lagu Indonesia Raya, "... Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya untuk Indonesia Raya..."
Photo by Google DeepMind: https://www.pexels.com/photo/an-artist-s-illustration-of-artificial-intelligence-ai-this-image-depicts-ai-safety-research-to-prevent-the-misuse-and-encourage-beneficial-uses-it-was-created-by-artist-khyati-trehan-17485632/