Ada sesuatu yang menarik ketika agama dan politik bersinggungan dalam satu ruang yang sempit. Conclave adalah film yang membawa kita ke dalam proses pemilihan Paus baru, sebuah ritual sakral yang ternyata lebih banyak drama politiknya daripada yang kita kira. Awal film terasa lambat jujur saja, aku sempat berpikir “Oke, ini hanya film tentang orang-orang tua berdebat dalam ruangan tertutup.” Tapi semakin masuk ke pertengahan, semuanya berubah, Intrik mulai terjalin, kepentingan mulai bertabrakan, dan plot twist mulai muncul satu per satu.
Ini bukan sekadar tentang memilih pemimpin gereja, ini tentang bagaimana manusia bekerja dalam sistem kekuasaan. Bagaimana seseorang bisa naik, bagaimana seseorang bisa jatuh. Hal yang patut diapresiasi dari film ini adalah bagaimana cerita yang sesederhana pemilihan Paus bisa dibuat serumit itu. Tidak ada adegan aksi, tidak ada efek spesial yang mewah, hanya permainan kata, ekspresi, dan strategi. Tapi justru di situlah letak keindahannya.
Dan jangan lupakan scoring musiknya, ciamik banget! Ada momen-momen di mana alunan musiknya begitu pas, menambah ketegangan dalam setiap keputusan yang diambil oleh para Kardinal. Pada akhirnya, Conclave adalah refleksi dari realita politik hanya saja kali ini terjadi di dalam tembok Vatikan. Calon Paus yang tampak suci pun tetap manusia, dengan ambisi, ketakutan, dan strategi. Film ini mungkin tidak punya hype sebesar film Oscar lainnya tapi bagi yang menikmati politik, konspirasi, dan permainan kekuasaan dalam ruang tertutup ini adalah mahakarya yang layak diapresiasi lebih.