Kerja seni adalah pekerjaan rasa. Sementara di negeri kita tercinta ini, pendidikan ialah melulu soal nalar dan logika. Tak heran jika Kang Aat yang saat itu meletakkan perhatian dan rasa pada setiap pemaparan Kakak, melahirkan ungkapan bahwa Kakak-Kakak di Smipa adalah seniman pendidikan. Bagaimana tidak, tiada satu pembahasanpun tentang pencapaian nilai dan keberhasilan peringkat di kelas. Ulasan setiap Kakak selalu berangkat dari pengamatan yang jeli dan jitu tentang perkembangan setiap anak "menjadi manusia" seutuhnya melalui bermacam program yang berjalan sepanjang tahun. Tak hanya anak, Kakak juga menyorot perkembangan diri sendiri sebagai Kakak sekaligus manusia, pertumbuhan Kakak lain atau partner di kelas, bahkan orangtua dan keluarga Smipa. Semua belajar, semua murid, dan semua guru. Tentu saja ini soal rasa, bisa merasa dan bukan merasa bisa.
Di mana seninya? Setidaknya ini beberapa "cabang" seni (menurut amatanku sendiri) yang dihidupi oleh Kakak-Kakak dan tim Smipa sebagai seniman pendidikan: Seni Mengamati, Seni Mengenal Diri (diri sendiri dan anak), Seni Mengantarkan, dan Seni Meluaskan. Semoga ada kesempatan untuk menguraikan setiap "cabang" seni di atas menjadi tulisan-tulisan terpisah di Ririungan.
Selain "cabang-cabang" seni ini, tentu saja ada seni lain yang dikuasai Kakak-Kakak atau keluarga Smipa, sehingga sangat terbuka untuk siapa saja menambahkan "cabang" seni lain di kolom komentar atau tulisan lain untuk saling menggenapi.
Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi seniman?