Saya memang melewatkan esai saya kemarin malam - karena pulang dari misa Sabtu Suci baru menjelang tengah malam. Pagi tadi saya menengok Ririungan dan membaca posting Rico yang berjudul Candlelight.
Dalam khotbahnya, Romo Hendra menyampaikan kisah tentang empat batang lilin. Keempat lilin ini masing-masing adalah lilin Damai, lilin Iman, lilin Cinta dan Harapan. Kisah ini saya narasikan ulang - karena saya tidak ingat betul kata-kata yang diucapkan romo Hendra. Tapi intinya mudah-mudahan tersampaikan.
Awalnya ke empat lilin ini menyala terang di suatu ruangan. Tapi perlahan-lahan satu demi satu lilin itu meredup. Mulainya adalah lilin Damai. Perlahan lilin ini meredup dan kemudian padam. Tidak sulit melihat kenapa alasannya karena jauh dan dekat, di sini maupun di sana, kedamaian makin sulit dilihat. Orang-orang saling menyakiti dan bahkan berperang satu sama lain. Saling membunuh dan menyengsarakan - seperti di Rusia sana.
Kemudian lilin Iman juga meredup lalu padam karena keadaan dunia semakin lama semakin tidak menentu. Manusia sulit sekali meyakini bahwa ada sesuatu yang bisa menjaga agar segala sesuatu akan tetap baik seperti yang diinginkan. Dua tahun ini kita dilanda pandemi diikuti segala kesulitan dan tantangan yang mengiringinya. Belum usai pandemi melanda, ada dua negara yang berperang dan membuat kekacauan
Setelah lilin Damai dan Iman padam, lilin Cinta pun menyusul karena seakan tidak ada gunanya lagi dia menyala. Lilin Cintapun padam, menyisakan lilin Harapan. Ruangan pun menjadi semakin temaram karena hanya tinggal satu lilin yang menyala. Tidak lama satu anak kecil masuk ruangan dan merasakan ruangan yang gelap - hanya diterangi sebatang lilin. Anak kecil itu membalik badannya dan hendak pergi - tapi lilin itu menyapa anak kecil itu dan mengenalkan diri bahwa ia adalah lilin harapan. Satu-satunya yang tersisa sebagai sumber cahaya di tengah kegelapan itu adalah harapan. Lilin itu kemudian menunjuk ke tiga lilin yang sudah terlebih dulu padam. Lilin itu bilang, dengan nyala harapan, kamu bisa menyalakan cinta, damai dan iman... supaya semua kembali menyala. Lalu anak itupun menggenggam lilin harapan dan mulai menyalakan lilin-lilin lain yang padam satu demi satu...
Satu-satunya yang tidak pernah boleh padam adalah harapan. Ini berlaku buat masing-masing dari kita. Apapun yang terjadi, yang tidak pernah boleh hilang dalam diri kita adalah harapan. Situasi dua tahun terakhir ini sangat tidak menentu, tapi kita terus berharap bahwa segala sesuatu akan kembali menjadi baik. Dari sisi keimanan, kita perlu meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena suatu alasan. Tuhan punya rencana yang mungkin belum kita pahami - saat ini. Walaupun sederhana, Paskah kali ini buat saya memang istimewa. Kita yakin di hari-hari berikutnya segala hal baik akan kita bisa temukan lagi. Salam.
Photo by Thilipen Rave Kumar: https://www.pexels.com/photo/selective-focus-photography-of-lighted-candles-1656369/