Setidak-tidaknya sudah lebih dari 5 tahun terakhir setiap hari Senin atau Selasa saya mengirimkan sebuah email untuk mengingatkan rekan-rekan manager di tempat kerja untuk melakukan tanggungjawab mereka. Ada asalasan yang selfish sih, tentu saja email pengingat itu penting juga untuk saya, sebab jika ada salah satu dari manager itu tidak melakukan tugasnya, maka saya tida bisa memulai mengerjakan tanggungjawab saya. Jadi sebetulnya email itu bermanfaat untuk semua pihak, tidak hanya untuk mereka, tapi juga saya. Masalahnya, apakah selalu berhasil? Tidak! Karena sepertinya tidak semua membaca email yang saya kirim, apalagi karena terlalu rutin, setiap hari Senin, maka seringkali diabaikan.
Statistik mengatakan bahwa lebih dari 319 milyar email dikirim setiap harinya dan rata-rata hanya 16.97% email-email itu dibuka. Jadi tidak heran banyak email yang dilemparkan ke kotak sampah sebelum dibaca atau diabaikan begitu saja. Sepertinya hal yang sama juga terjadi pada email-email yang saya kirim. Para manager itu ada kemungkinan hanya melihat subject email yang saya kirimkan, lalu mungkin mereka berkata,"Oh itu email dari Jo, pasti soal mengingatkan untuk mengerjakan forecast." Lalu email itu diabaikan. Akhirnya pada menit-meneit menjelang deadline, masih banyak diantara mereka yang belum mengerjakan tanggung jawabnya.
Apakah saya merasa frustrasi? Kadang-kadang. Mungkin teman-teman saya di kantor sebel juga karena setiap minggu saya mengeluh karena manager X belum mengerjakan, atau Chef Y belum membalas email saya. Setiap hari Rabu kemungkinan keluhan muncul dari mulut saya. Itu lagu lama, sebab kejadian semacam itu sudah berlangsung sejak saya mulai bekerja di departemen ini. Pertama kali saya tidak pernah mengirimkan email pengingat, tapi karena ada beberapa orang yang selalu lupa, akhirnya saya mengambil inisiatif untuk mulai mengirimkan email seperti itu. Pertama-tama memang respons nya baik, semua mengerjakan tapi lama kelamaan mulai diabaikan.
Kadang jika saya sedang baik modnya, saya datangi orang-orang itu. Baru kemudian dia sadar atau ingat bahwa ada tugas yang belum dia kerjakan. Lama-lama kegiatan saya ini ketahuan oleh boss, lalu saya diingatkan untuk tidak melakukan itu. "Stop baby sitting them! If they still don't do their job let me know, I will take care of it." Pertama kali saya laporkan ke boss, lama-lama saya sungkan juga. Masa saya harus laporan ke boss setiap minggu?
Saya sudah melakukan banyak cara. Berbagai variasi email yang saya kirimkan. Saya bisa berikan banyak cntoh email-email itu karena tidak pernah saya buang. Apakah berhasil? Jika sudah 6 tahun kondisi tetap begitu-begitu saja, bagaimana menurut anda? Silahkan jawab! Hahaha.. Saya pernah membaca sebuah ungkapan seseorang, maaf saya lupa namanya. Dia berkata bahwa jika kita tidak mampu mengubah orang lain, biarkan saja. Yang harus kita lakukan adalah mengubah cara kita berpikir. Nah mungkin itu yang akan saya lakukan. Saya tidak baby sitting mereka, tapi saya mengerjakan tanggung jawab saya menyelesaikan tugas. Jika mereka lupa, saya datangi untuk mengingatkan. Biarkan saja orang lain menganggap saya baby sit, itu masalah mereka memiliki pendapat semacam itu, karena yang saya lakukan adalah menjalankan tugas dan berusaha menyelesaikan tanggung jawab saya.
Saya sudah pernah bekerja di banyak tempat. Tidak mudah menemukan sebuah tempat yang sempurna, bahkan tidak akan pernah menemukan tempat semacam itu. Itu mustahil. Yang harus saya ubah adalah bagaimana saya melihat kondisi itu sehingga dalam tanggapan saya semua itu sempurna. Saya yang menyesuaikan diri, saya yang harus memilih. I have to choose my own battle. Itu istilahnya. Nah demikian juga dalam menikmati pekerjaan, saya memilih berada diantara orang-orang yang positif. Jika saya memiliki aura yang positif maka tidak sulit menarik segala hal positif di sekitar kita. Demikian juga berlaku dengan orang-orang di sekitar kita. Optimisme adalah pilihan, kebahagiaan adalah pilihan, kebaikan juga merupakan pilihan! Nah saya akan akhiri bincang-bincang saya hari ini dengan sebuah kutipan menarik di bawah:
“Even if you cannot change all the people around you, you can change the people you choose to be around. Life is too short to waste your time on people who don’t respect, appreciate, and value you. Spend your life with people who make you smile, laugh, and feel loved.”
― Roy T. Bennett, The Light in the Heart
Photo credit: unsplash.com