Makan siang gratis, kedengarannya seperti program yang mulia kan? Bayangkan anak-anak sekolah bisa makan tanpa harus khawatir tentang biaya. Gizi mereka terpenuhi, fokus belajar meningkat, dan masa depan bangsa lebih cerah.
Tapi sayangnya, realita di lapangan tidak seindah konsepnya. Program yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto ini awalnya terdengar seperti langkah revolusioner. Tapi begitu dijalankan, masalah mulai muncul. Makanan basi, kualitas buruk, distribusi yang tidak merata. Anak-anak yang seharusnya mendapat manfaat malah berhadapan dengan risiko kesehatan.
Kita bisa saja menyalahkan vendor karena mereka yang bertanggung jawab atas penyediaan makanan. Tapi masalahnya lebih besar dari itu, pemerintah seharusnya memiliki sistem kontrol yang ketat. Kalau makanan yang sampai ke anak-anak dalam kondisi buruk, itu berarti ada sesuatu yang tidak beres dalam rantai pengawasannya.
Dan jangan lupakan soal anggarannya, 71 triliun rupiah. Untuk gambaran dengan jumlah itu, Indonesia bisa membangun 7 stadion sekelas Santiago Bernabéu (yang berbiaya sekitar 10 triliun per stadion) atau jika digunakan untuk sektor pendidikan anggaran ini bisa dipakai untuk membangun ribuan sekolah baru dengan fasilitas yang lebih layak.
Pertanyaannya, apakah makan siang gratis ini benar-benar solusi? Atau hanya proyek besar yang menguras APBN tanpa pengawasan ketat?Menyediakan makan siang untuk anak-anak sekolah itu ide yang baik, Tapi kalau pelaksanaannya buruk bukannya memberi manfaat, malah bisa jadi beban baru bagi negara.
Jadi sebelum kita bangga dengan gagasan ini, mari bertanya: Apakah ini benar-benar solusi, atau hanya strategi politik yang terlihat bagus di atas kertas?
Ini opini yg keren juga. Mantap Carlos ☝🏼🤗