Menulis sebetulnya tidak berbeda jauh dengan ngobrol. Bedanya, proses menulis masih melalui beberapa tahapan dalam pengutaraannya. Kalau ngobrol pikiran bisa langsung diutarakan secara lebih spontan, dengan menulis pikiran masih bisa dipertimbangkan ulang, dan memilih kata-katanya bahkan bisa berkali-kali. Anehnya justru karena melalui beberapa tahapan itu, seringkali proses menulis menjadi terhambat.
Satu hal yang membuat kendur dalam kegiatan menulis itu karena tidak merasa ada kewajiban untuk melakukan itu. Karena tidak ada kewajiban menulis, maka saya cenderung pilih-pilih, hanya peristiwa yang menurut saya layak untuk dijadikan kenangan saja yang kemudian saya tulis. Hanya saja sekali lagi, kadang dalam prosesnya tidak lancar dan akhirnya tidak selesai atau malah tidak jadi menulis. Yang jelas karena saya tidak membuat komitmen yang menuntut saya untuk menulis, maka ya itu tadi, lamban, tidak konsisten dan juga sering terbentur dengan rasa malas. Hasilnya dalam 5 tahun saya hanya menulis 229 tulisan, Sekitar 45-46 tulisan per tahun atau kurang dari 4 buah per bulan. Tapi jangan salah loh, dari 229 tulisan itu, 80 buah adalah produk dari atomic essay! Kenapa saya simpan di tempat saya biasa menulis blog? Karena saya tidak mau tulisan itu hilang jika seandainya kegiatan atomic essay ini lalu terhenti. (amit-amit, mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi!). Juga tempat blog itu jadi semacam lemari buat menyimpan arsip hahaha. Seru juga jika sedang santai saya membaca mulai dari tulisan pertama dan kemudian bisa membayangkan kembali perjalanan yang sudah saya lalui selama bertahun-tahun itu.
Kedua, sesudah ditulis dan di-published biasanya yang baca ya kebanyakan saya sendiri, tetapi karena memang tujuannya untuk mendokumentasikan peristiwa dalam hidup, maka saya masih terus menulis walau banyak yang kemudian menjadi penghuni draft folder. Tapi itu tidak apa-apa karena saya pikir walaupun tidak selesai dan hanya sampai pada draft, toh peristiwa itu tetap terabadikan. Produk yang tidak selesai itu masih dapat saya baca, dan kadang pada saatnya ketika mood kembali hadir, saya bisa menyelesaikannya. Draft memang bukan hanya produk tidak selesai, tapi bisa dianggap sebagai produk yang tertunda, yang masih pendding untuk diselesaikan pada suatu saat nanti.
Baiklah, sekarang mengapa saya bisa menulis hingga 80 essay selama hampir 3 bulan bergabung dengan atomic essay Smipa? Menurut saya, mungkin karena komitmen. Sejak awal memang ada wacana yang mengatakan "setiap hari", hanya 250 kata. Malah kak Andy bilang hanya 15 menit setiap kali. Kalau mainan sosial media bisa berjam-jam lalu mengapa menulis sesuatu yang hanya membutuhkan 15 menit tidak bisa? ini tantangan! Itu yang memacu saya untuk bergabung di awal. Sejak saat itu, menulis "hampir" menjadi kebiasaan. Saya bilang hampir, karena memang secara jujur saya belum merasa "butuh" menulis. Yang dimaksud dengan butuh itu saya ibaratkan seperti makan, kalau lapar maka saya butuh makan, nah menulis belum sampai sana walau saya berusaha menepati janji yang sudah saya canangkan di awal yaitu komitmen untuk menulis setiap hari, dan alhamdulillah sejauh ini masih saya anggap berhasil walau ada beberapa kali seolah-olah dipaksakan karena ada semacam cut off time yang harus saya penuhi.
Hal lain yang saya rasakan adalah dukungan rekan-rekan yang juga ikut bergabung. Walau hanya sekedar pencet tanda jempol, itu sudah bisa memicu semangat bahwa tulisan saya ada yang baca. Ada atau tidak yang baca adalah bonus. Sekali lagi tujuan saya menulis itu bukan untuk disebar luaskan agar jadi populer, bukan! Tujuan menulis adalah, saya sudah katakan berkali-kali, mengabadikan peristiwa dan pengalaman hidup. Sukur-sukur kalo ada yang menyukai dan ikut gembira jika tulisan saya menggembirakan atau ikut prihatin jika tulisan saya memprihatinkan.
Dukungan lain yang saya rasakan adalah "saling sapa", saling berbagi pendapat, saling mengucapkan terima kasih dan juga saling memberikan pujian walau misalnya saya secara pribadi belum mengenal bahkan belum pernah bertemu seperti contohnya saya sering ngobrol dengan Bang Ahkam. Saya bertemu beliau ya di atomic essay Smipa ini. Dengan menulis saya tambah teman, saya tambah saudara. Nah banyak untungnya khan?
Mungkin masih banyak hal yang belum terpikir yang harusnya saya ungkapkan di sini. Saya akan coba di tulisan yang berikutnya jika menemukan hal-hal lain. Ada teman-teman lain yang merasakan keuntungan menulis di atomic essay Smipa?***
Kita usahakan bersama agar kegiatan AES ini langgeng ya, Pak Jo. Semoga malah makin sukses dan bertambah partisipannya. Total esai Pak Jo sudah 229. 80 darinya produk AES. Berarti dalam 69 hari ke depan, total esai Pak Jo di AES sudah menyamai jumlah esai-esai sebelumnya.
Hehehe, iya Pak Jo, kita belum pernah bertemu tapi sudah seperti dua sobat karib yang telah kenal bertahun-tahun berkat AES. Ayo kapan nih para penulis AES bisa temu Zoom?