Biji-biji kopi yang sudah diolah dari kebun sudah dimasukan ke stoples-stoples estetik di kedai kopi. Mereka yang berdesakan sudah terlihat senang karena akan disajikan ke gelas-gelas para penikmat kopi yang tentunya mengapresiasi mereka. Apresiasinya pun sangat mendalam, dari asal, cara pengolahan, penyajian, aroma, dan rasa.
Biji-biji kopi ini punya hak istimewa yang didapatkan sejak ditanam. Para petani adalah orang yang menanam dengan penuh kesungguhan dikarenakan ia tahu yang membeli biji-biji kopi mereka bukanlah orang sembarangan. Perawatan dilakukan dengan penuh ketelitian dan tentunya tidak serampangan.
Ketika sudah disajikan pun para penikmat adalah orang yang memilih dengan pengetahuan tentang kopi yang mereka sudah miliki. Kebanyakannya mereka minum dengan santai tidak terburu-buru sambil mengobrol ataupun mengerjakan tugas kuliah.
Biji-biji kopi merasa hidup mereka adalah hidup yang sangat bermanfaat dikarenakan mereka dibutuhkan, dicari, dan diapresiasi oleh para penikmat kopi.
***
Aku adalah kopi yang kehilangan identitas, kopi yang ditolak dan dianggap tidak pantas masuk ke kedai kopi. Sejak disiapkan untuk disajikan ke pelanggan, sebagian besar masyarakat sudah mencap diriku hanyalah tiruan kopi dari jagung. Aku disimpan dalam bungkus dengan teman-teman kopi dan juga beberapa teman jagung yang nantinya dijual cukup murah.
Para karyawan pabrik bahkan mungkin tidak tahu jenis-jenis olahan kopi yang ada di luar sana, mereka bisa jadi mengolahku dengan penuh tekanan dikarenakan pemasukan bulanan yang secukupnya dan terkadang tidak cukup untuk menghidupi keluarga mereka.
Setelah disajikan pun banyak yang mengonsumsiku dari kalangan yang diburu waktu ketika mencari pemasukan yang tidak sebanding dengan keringat yang dikucurkan. Dikarenakan hal ini pula aku sering diminum dengan cerita curhatan penuh amarah. Diminum dengan seruputan yang serampangan diikuti dengan suara “ahhh” yang terdengar tidak syahdu dan meresahkan pengunjung lain.
Aku merasa hidupku hanyalah rentang waktu yang menyedihkan hingga akhirnya aku dikonsumsi tanpa apresiasi, berbeda dengan teman-temanku yang mempunyai hak istimewa di kedai kopi sana.