Kalau ada yang masih ingat, di tahun 2019, sebelum pandemi, Semi Palar mencoba mengadakan gerakan olah sampah melalui Ecobricks. Waktu itu mengolah sampah (memilah sampah dan membuat Ecobricks) jadi bagian dari gerakan di smipa. Cukup banyak ecobricks yang dihasilkan dan didaftarkan ke ecobricks.org. Sayangnya semua terhalang pandemi dan terhenti.
Saya dengar bahwa cukup banyak warga smipa yang memandang bahwa bikin ecobricks itu tidak masuk akal dan buang waktu saja. Saya sepakat. Tapi memang belum ada alternatif mengolah sampah plastik yang masuk akal. Membuang plastik sendiri adalah sebuah kebodohan, jadi setidaknya membuat ecobricks adalah salah satu bentuk tanggung jawab kita mengolah sampah plastik yang kita hasilkan.
Pada saat yang sama hal ini bisa membangunkan kesadaran bahwa lewat lelahnya menggunting dan mencacah plastik kita bisa merasakan sendiri betapa sulitnya menghancurkan plastik - yang sebelumnya kita buang dengan gampangnya ke tempat sampah. Bagaimanapun sampah yang kita buang akan jadi masalah lain di luar sana. Menyedihkannya, data terakhir mencatatkan Indonesia jadi negara pembuang sampah plastik kedua terbesar di dunia.
Lalu apa jadinya dengan ratusan ecobricks yang sudah sempat kita buat dan dikumpulkan di fasipisa? Kebetulan sejalan dengan pembenahan area depan Semi Palar, ecobricks yang terkumpul sudah dimanfaatkan jadi bahan pondasi penutup saluran air yang ada di depan Semi Palar (di belakang Warung Wosika). Fotonya ada di atas ini.
Jadi setidaknya sampah kita sudah memanfaatkan sampah jadi sesuatu yang bermanfaat. Walaupun skalanya masih terbatas tapi hal ini sudah kita lakukan.
Semoga kita semua terus semakin sadar terhadap masalah sampah yang masih terus mengancam kita karena sistem peradaban yang cacat - di mana kita masih terperangkap hidup di dalamnya. Sistem peradaban yang membuat kita menimbun diri kita sendiri dengan sampah.