AES621 Arogansi Intelektual
Andy Sutioso
Thursday February 8 2024, 9:04 AM
AES621 Arogansi Intelektual

Judul di atas ini terpantik atas obrolan dengan salah seorang calon orangtua murid Semi Palar - dalam kesempatan beliau mengantar putrinya mengikuti proses Trial di Rumah Belajar Semi Palar. Teman ini satu almamater dengan saya di jurusan Arsitektur, dan sekarang mengajar di Jurusan Integrated Arts di Fakultas Filsafat, UNPAR. 

Obrolan ngalor ngidul akhirnya bermuara tentang situasi di mana semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semakin sulit juga individu tersebut untuk membuka diri terhadap hal-hal yang baru. Bahasan ini juga muncul saat mendiskusikan tentang implementasi Kampus Merdeka - bagian dari Kurikulum Merdeka yang diusung oleh Kemendikbudristek yang juga membawahi Dirjen Pendidikan Tinggi. Berjalan sekian tahun, sejauh pengetahuan saya, tidak banyak jurusan yang mengupayakan hal ini di dalam rangkaian kurikulumnya. Bagaimana tidak, Kurikulum Merdeka - yang bisa diterjemahkan sederhana sebagai pembelajaran yang membebaskan dengan sendirinya mensyaratkan keterbukaan diri terhadap berbagai hal yang baru. Melepas diri dari kungkungan pola pikir yang mungkin tidak disadari memenjara / membatasi proses belajar kita. Inilah salah satu kunci / esensi dari Kurikulum Merdeka atau Merdeka Belajar. Tidak mungkin kita merdeka saat kita tidak menyadari bahwa banyak hal membelenggu terutama pikiran-pikiran kita. 

Thinking outside of the box - sepertinya istilah yang terkait erat dengan ini. Di sisi lain, intelektualitas seseorang di bidang tertentu juga bisa akhirnya akan menjadi kotak atau pagar yang membatasi. Bagi saya inilah bahayanya sebutan pakar. Sebutan yang membuat kita seakan kita sudah tahu segala sesuatu tentang suatu hal. 

pexels-andy-sutioso-10149306.jpg

Merasa tahu banyak tentang sesuatu mudah sekali menjebak kita di dalam perasaan arogansi. Inilah yang sering saya sebut Arogansi Intelektual. Dari situ saya jadi teringat momen di mana saya memutuskan untuk melepaskan diri dari gelar akademis yang sudah saya dapatkan dari proses belajar saya - terutama di universitas setidaknya sampai saya mendapatkan gelar S2 dari studi saya di Australia. 

Di dalam obrolan itu, saya jadi teringat perjumpaan saya di tahun 2000-an dengan mas Jiwo (Sujiwo Tejo). Seumur hidup saya hanya sekali berjumpa langsung dengan beliau dan dalam kesempatan itu beliau menyampaikan kepada saya tentang penjara. Tulisan tentang ini ada di blog saya yang lama, silakan klik di sini untuk mengaksesnya. Arogansi Intelektual kalau disadari betul, sebetulnya menyeramkan. Karena merasa jagoan - merasa tahu banyak walaupun sebetulnya kita hanya tahu apa yang ada di dalam kotak kita. Di luar kotak itu, jangan-jangan kita ga tau apa-apa karena manusia begitu kecil - serpihan debu belaka di alam semesta yang sedemikian jembarnya. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam. 

Photo by Bruno Cervera: https://www.pexels.com/photo/man-in-white-shirt-with-book-in-hands-18489099/

Photo by Andy Sutioso: https://www.pexels.com/photo/a-black-and-white-decorative-frame-10149306/