AES362 Membaca Simbol
Andy Sutioso
Wednesday May 11 2022, 6:36 AM
AES362 Membaca Simbol

Selamat pagi... hehe, biasanya saya menulis malam hari, sekarang saya beralih ke menulis pagi hari. Sudah hari ke tiga. Walaupun tadi bangun agak terlambat karena kemarin tidurnya juga terlalu malam. OK mari bicara tentang simbol. Ini pengalaman yang sudah lama - tapi jadi teringat kembali karena perbincangan saya dengan kang Aat di minggu yang lalu. 

Pengalamannya waktu saya survey ke TMII bersama kakak-kakak - yang saya ingat ada kak Iden dan kak Taufan, untuk salah satu tema pembelajaran di jenjang SD. Ini di tahun-tahun awal Semi Palar, mungkin sekitar TP ke 6 atau ke 7. 

Pertama-tama adalah bahwa Indonesia adalah bangsa dan negara yang luar biasa. Itu impresi yang muncul sangat kuat saat kami selesai mengunjungi Museum Indonesia. Singkat kata, LUAR BIASA. Di dalamnya kita bisa melihat Indonesia dengan segala 'kekayaan' nya terutama kekayaan budayanya. Salah satu yang saya temukan di dalamnya adalah konsep yang jarang kita dengar - pasangan dari Ibu Pertiwi yaitu Bapak Angkasa. Langit dan Bumi, dilukiskan dalam sebuah lukisan mural yang mendetail dan sangat indah. Sayang saya tidak bisa menemukan dokumentasinya. Terlalu banyak kalau kehebatan Indonesia dituliskan di sini. Saya segera pindah ke topik selanjutnya. 

Dalam obrolan dengan kang Aat saat bersilaturahmi paska Idul Fitri tahun lalu, kesimpulan yang segera muncul adalah bahwa Indonesia itu salah kelola. Penyebabnya apa adalah keserakahan para pemegang kekuasaan. Mengenai hal ini kang Aat cerita panjang lebar - karena sempat menjadi anggota tim Survey ke beberapa puluh titik lokasi Transmigrasi. Ini di jaman pemerintahaan Orde Baru. Miris sekali mendengar cerita kang Aat. 

Nah beralih kembali ke amatan saya di TMII, kami berkunjung ke beberapa anjungan propinsi yang hendak dieksplorasi oleh teman-teman Smipa. Dari satu anjungan ke anjungan lain kami berpindah dan ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya adalah display gubernur dan wakil gubernur - biasanya ditempatkan di sebelah lambang propinsi. Menarik perhatian karena hampir seluruh foto pemimpin propinsi yang saya lihat - para gubernur mengenakan pakaian dinas gubernur yang kita tahu jas berwarna putih, berdasi, satu set dengan topi dan berbagai atributnya. Ditempel di area depan anjungan rumah adat propinsi yang memang sangat khas dengan masing-masing tradisionalitasnya. Segera saya merasa ini kok ga nyambung karena secara visual ini tampil sangat kontras. 

Nah sewaktu ngobrol dengan pak Acep Iwan Saidi - beliau orangtua Bintang, alumni Smipa yang pakar epistemologi, saya jadi mengerti bahwa secara simbol, ini kan gambaran bahwa para gubernur itu adalah orang-orang yang ditugaskan mewakili pusat di daerah mereka masing-masing. Secara simbolik kan itu yang dimunculkan. Saya pikir kenapa para gubernur tidak difoto dengan pakaian adat masing-masing daerah? Kembali lagi, secara simbol ini kan bisa jadi sangat berbeda - bahwa para gubernur semestinya adalah wakil rakyat daerah - di pusat. Bicara soal keberpihakan - saya pikir ini akan jadi sangat-sangat signifikan perbedaannya. 

Jadi ya saya bersepakat dengan kang Aat soal salah kelola negara ini. Soal seragam gubernur ini adalah salah satu contohnya. Entah disengaja atau tidak saya tidak bisa menyimpulkan - tapi secara simbolik hal ini muncul dan sudah berjalan berpuluh-puluh tahun. Dimulai sejak pemerintahan orde baru sampai hari ini. Ini hal-hal kecil yang saya pikir perlu diperbaiki - kalau kejayaan Indonesia dan kekayaannya yang merupakan hak setiap warga Indonesia ingin kita jaga terus di masa depan.  

Photo by ahmad syahrir: https://www.pexels.com/photo/motor-boat-near-dock-during-sunset-758742/

joefelus
@joefelus   4 years ago
Terima kasih kak Andy! Keberpihakan! Kata ini terus nempel...
admin
@admin   4 years ago
Setuju dengan pendapat Kang Aat: negeri ini salah kelola.