Saya menjumput sepotong tahu Sumedang yang renyah dan masih panas. Barusan saya goreng ulang dengan air fryer. Alat yang menimbulkan pro dan kontra dimana-mana. Saya tidak terlalu peduli, menggoreng dengan minyak pun sama saja berisiko dan saya tidak punya banyak waktu tersisa dihabiskan untuk berdebat. Semuanya masih dalam taraf opini. Saya lebih khawatir dengan kadar lemak minyak sawit. Eniwei, itu semua tidak masalah, saya hanya ingin menikmati tahu selagi indera perasa saya masih baik. Saya hanya punya sekitar 10 tahun lagi, sisanya katanya adalah bonus, persis seperti kata ayahnya @kak-andy. Saya setuju. Lagian saya juga tidak mau terlalu uzur hingga tergantung pada orang lain.
Saya pilih sebuah cabe rawit, yang paling kecil karena saya tidak terlalu tahan pedas. Rasa sakitnya kurang menyenangkan tapi tahu Sumedang tanpa cabe rawit ibaratnya masakan tanpa garam hahaha.. Lalu saya gigit sedikit, ternyata walau sangat kecil, tidak lebih dari 2cm, pedasnya luar biasa. Bibir saya terasa terbakar ditambah tahu yang masih sangat panas. Kombinasi yang luar biasa untuk dialami! Hahaha.. Segera saya hirup kopi latte yang juga barusan saya buat sendiri. Ini paduan yang lucu, pikir saya. Tahu tradisional ditambah kopi modern. Cocok saja, jika dicocok-cocokkan. Tidak harus kopi latte ditemani dengan croissants, bukan? Mungkin akan sangat luar biasa jika dinikmati di sebuah meja di pingir jalan di Café de Flore yang merupakan kedai kopi ikonik bersejarah yang terletak di distrik Saint Germain Des Pres di kota Paris, tapi kalau hanya di Pasir Impun.. (bukan Paris Impun hahaha) tahu Sumedang sudah luar biasa. Hmm... harusnya saya minum kopi Luwak yang beberapa bulan lalu saya beli sepulang dari mengunjungi candi Borobudur. Akan lebih nikmat dengan tahu Sumedang apalagi kopinya ditemani secuil gula aren. Itu kopi yang menurut saya membuat terbang ke dimensi yang lain. Lain kali, kata saya! Itu kopi yang benar-benar saya hemat sebab harganya sangat luar biasa mahal, hampir 10 kali lipat harga produk kopi roaster lokal di kota Bandung yang jadi langganan saya. Ingat kopi, saya jadi penasaran ingin mencoba kopi di Co-op Smipa. Setiap kali mampir saya selalu lupa.
Memikirkan kopi dan tahu membuat saya tersenyum. Manusia itu tidak pernah puas. Ketika dulu saya duduk di meja dekat jendela sebuah kedai kopi di awal musim dingin, seperti biasa people watching sambil menikmati secangkir kopi dan pastries, tidak jarang saya membayangkan minum kopi tubruk dan tahu Sumedang serta leupeut. Saat itu tahu Sumedang adalah kemewahan, nilainya melebihi seporsi medium rare ribeye steak yang juicy dan berlemak seharga ratusan ribu jika di-Rupiah-kan! Sangat mewah karena hampir tidak mungkin diperoleh, kecuali mendatangkan secara langsung, tapi tetap kualitasnya tidak seenak di tanah air. Nah sekarang ketika saya duduk makan tahu dan minum kopi, yang saya bayangkan justru duduk di pinggir jendela cafe, memandangi orang-orang yang lalu lalang berjaket tebal menghindari tumpukan salju di trotoar. Yang ada kurang diapresiasi, yang tidak ada didambakan. Begitulah kira-kira. Persis komentar mbak @murdeani, bahwa kita sering luput menikmati yang nyata saat ini. Ya, memang aneh kecenderungan kita dalam menjalani hidup, selalu ingin yang tidak ada dan lupa dengan yang ada dihadapan kita! Kumaha ieu?
Foto credit: Facebook