Bulan ini adalah bulan kelahiran bapakku, dan bapakku kembali ke penciptanya lima puluh tujuh hari sebelum hari kelahirannya di tahun 2021. Hari yang membuatku tersadar bahwa belum tentu aku punya kesempatan hidup selama bapakku, meski berharap bisa kembali dalam keadaan terbaikku sebagai seorang muslim, seperti bapakku (Insyaa Allah) yang teramat tenang dalam kesunyiannya kala itu. Hanya ada kami berempat menemani kepergian beliau setelah diberi keleluasaan oleh Allah melalui seorang tenaga medis dengan isyarat mentalqinkan beliau. Maa Shaa Allah. Sebuah kepergian yang begitu syahdu dan indah bagiku.
Hari yang kala itu tak terbayang sesudahnya akan seperti apa. Seringkali tangisku terjadi begitu saja hanya karena menatap awan, bahkan saat melalui peristiwa yang mengingatkanku pada beliau. Iya, kusadari, kenangannya terus mewarnai hari-hariku melalui hembusan angin yang menggoyangkan tetumbuhan dipekarangan rumah, ruang-ruang yang dulu pernah ia benahi, catatan-catatan kecilnya untukku, serta buku-buku yang masih tersimpan rapih dalam lemarinya.
Kepergian bapak mengingatkan aku akan kebesaran-Nya. Aku sama sekali gak berdaya melawan waktu. Sekeras apapun keinginanku mengembalikan waktu, tetap saja aku harus berjalan ke depan. Dan Islam mengajarkan aku untuk terus berbakti pada bapakku melalui banyak kebaikan agar doa-doaku sampai padanya. Kurasa, itulah bakti yang sesungguhnya dengan meneruskan kebaikannya hingga menjadi amalan yang tak terputus baginya. Insyaa Allah.
Dalam diamnya kini aku semakin tahu apa yang diupayakannya atas perintah-Nya adalah bukti cinta bapak. Rasa malunya mengajarkan aku tentang sebuah ketaatan. Teguh pendiriannya mengantarkan keyakinanku pada takdir-Nya, dengan itulah aku dikuatkan. Dengan itu pula hatiku dilembutkan untuk senantiasa merendah, merunduk, berserah pada-Nya.
O' Bapak! Sering aku memanggilmu dalam hati, menyimpan setiap jengkal rindu di relung-relung terdalam; Tunggu aku ya, Bapak. Satu pintu surgaku belum tertutup, masih ada kesempatanku untuk melaksanakan birrul walidain kepada Ibu seperti pesan-pesanmu dahulu tentang keutamaan seorang Ibu. Bismillah, tugasmu sebagai khalifah sudah selesai, tongkat estafet darimu sedang kusiapkan untuk anakku. Semoga Allah mampukan aku memegang tanggungjawab itu.