Hari ini baru bisa melakukan aktivitas rutin yang dilakukan sehari-hari menjelang dan setelah hari raya Idul Fitri. Setelah sekian hari berjarak dengan laptop, handphone, sketch book karena perhatian teralihkan menghadapi hari raya, mudik, saudara dan tamu. Sebetulnya jarak tempat tinggal kami bukan masalah, hanya ketika pandemic muncul membuat jarak menjadi masalah.
Idul Fitri kali ini membuat hati terasa lebih penuh. Terlebih karena kami bisa bertemu dan membagi perhatian pada dua keluarga secara langsung. Hari pertama berkumpul dengan keluarga saya di Bandung, lalu hari kedua berkumpul dengan keluarga suami di Pandeglang-Banten. Tiga kali momen Idul Fitri berusaha menahan diri dengan berkirim kabar lewat whatsapp dan zoom. Meski selama ini bisa beradaptasi dengan segala keterbatasan, ternyata interaksi langsung memang tidak bisa tergantikan. Rindu bertemu langsung kali ini terasa beda.
Saya tidak pergi kemana-mana pada hari raya di hari pertama. Tapi hampir seluruh saudara dekat maupun jauh berdatangan ke rumah saya untuk mengunjungi Amih (sebutan untuk Ibu). Amih orang tua kami yang tersisa, sehingga tidak hanya dikunjungi oleh anak-anaknya, namun tetangga dan saudara jauh pun datang ke rumah. Setiap saat selalu ada saja yang datang. Saya dan kakak perempuan biasanya yang menemani Amih menghadapi tamu yang mengajak ngobrol, ngemil-ngemil kue lebaran dan menyiapkan air mineral.
Menu makan hari raya di rumah bagi-bagi tugas, setiap kakak maupun keponakan yang bisa membawa 1 jenis makanan. Jadi menu makan hari raya kali ini terasa lebih meriah dan semua orang yang ke rumah bisa menikmati makanan. Ada yang bawa opor ayam, gule, capcay, sambal goreng telur, mie Aceh, bihun, kerupuk, pudding, minuman dingin, buah-buahan, bolu dan bebrepa lainnya. Kami di rumah tinggal menyiapkan tempat, nasi, air mineral, teh dan kopi. Meskipun begitu, Amih tetap saja harus ditenangkan karena dulu-dulu Amih biasa menyajikan segala menu makanan hari raya untuk menyambut kedatangan anak-anaknya.
Karena kami keluarga besar, jadi ruangan di rumah digelar karpet, setiap sudut pasti terisi oleh beberapa generasi. Sambil duduk-duduk, makan dan berbagi cerita sesuai generasinya. Suasana jadi bercampul, “rame” dengan foto bareng di halaman rumah dan bagi-bagi uang Lebaran buat anak-anak kecil.
Nah, kesempatan Idul Fitri tahun ini pun kami pergunakan untuk mudik ke Pandeglang. Tadinya mau pakai transportasi umum, ternyata adik suami mengirim mobil untuk menjemput. Senang! Rasa khawatir menggunakan transportasi umum pun hilang. Untuk keluarga suami, sudah 3 kali Idul Fitri dilewatkan dengan interaksi jarak jauh.
Pagi, hari kedua Idul Fitri dibuka dengan makan gegemblong dan semur daging buatan Bunde atau Bu Ende (sebutan untuk nenek di daerah Banten). Menu makan khas Banten yang sudah lama (bangeeet) kami rindukan. Setiap waktu makan, kami pun nyocol gegemblong ke semur daging. Puas rasanya. Oh ya, kamu pasti membayangkan gegemblong ini ketan yang dibalur gula merah, nah kalau di Bandung nama gegemblong ini kita kenal dengan nama ulen atau ketan uli. Selesai menikmati gegemblong, dilanjut seduh kopi Manglayang. Kami sengaja bawa kopi dan alat seduhnya agar pertemuan terasa lebih spesial dan obrolan pun .
Dua hari yang penuh dan menghangatkan hati. Jarak menyadarkan kita betapa berharganya pertemuan, ada suara, ada yang didengar, ada sentuhan, ada ekspresi muka. Semoga pertemuan di hari raya Idul Fitri kali ini semakin berani memaafkan kesalahan diri sendiri dan orang-orang sekitar yang pernah melukai.
Wah yang ditunggu-tunggu mantapp kak Imaa 😊