Ini adalah hari keempat saya melakukan semacam retret pribadi sebelum pergantian tahun. Ini adalah renungan saya yang ke-4. Saya ingin ngobrol tentang teman.
Filsuf Aristoteles mengatakan bahwa ada 3 jenis pertemanan. Friends for a reason, friends for a season dan friends for a life time. Yang pertama, friends for a reason adalah relasi pertemanan yang berdasarkan kebutuhan. Kita memiliki relasi yang baik dengan dia karena ada kebutuhan yang bisa dimanfaatkan oleh masing-masing. Misalnya saya butuh teman bicara, demikian juga dia, nah ada klik yang terhubung lalu menjadi berteman. Ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
Yang kedua adalah friends for a season. Ini biasanya merupakan hubungan pertemanan karena ada berbagai kecocokan misalya ke gym dan berolahraga sama-sama, sering berjumpa untuk ngopi bareng karena bisa ngobrol dan bersendagurau, atau karena memiliki hobby yang sama.
Yang ketiga, adalah hubungan pertemanan yang membutuhkan waktu jauh lebih lama daripada yang pertama dan kedua, ini bentuk pertemanan yang sangat kuat karena berdasarkan rasa saling menghormati dan rasa kagum akan satu sama lain. Pertemanan ini terbentuk ketika mereka memiliki tujuan hidup atau nilai-nilai hidup yang serupa, memiliki visi tentang bagaimana seharusnya kehidupan ini dijalankan.
Itu menurut Aristoteles. Saya hampir tidak pernah mengkategorikan teman-teman saya dengan kelompok-kelompok di atas. Mungkin jika dipikirkan benar-benar, saya hanya menggunakan istilah kenalan dan sahabat. Kenalan bagi saya adalah relasi yang penting, bisa saling membantu, bisa saling mendengarkan dan jadi teman bicara namun tanpa mereka saya tidak apa-apa. Lalu Bagaimana dengan sahabat? Sahabat bagi saya adalah bagan dari hidup yang saya jalani, yang bersama-sama membangun masa depan masing-masing dan juga memiliki sejarah dimana kalau direnungkan baik-baik tanpa relasi ini kami tidak akan benar-benar utuh bahkan tidak akan seperti kami saat ini. Dampak persahabatan yang sangat luar biasa yang membentuk kehidupan. Itu 2 kelompok relasi yang saya bagun dalam hidup.
Kenapa saya mengangkat obrolan ini? Karena bagi saya relasi-relasi ini sangat amat penting. Saya dapat menyebutkan satu demi satu dengan mudah dan cepat tanpa terlewat karena mereka ini adalah orang-orang yang sangat penting yang hadir ketika saya membangun serta menjalani kehidupan hingga saat ini. Tanpa mereka saya tidak akan menjadi saya sekarang ini! Itu alasan mengapa saya menempatkan mereka sebagai sosok-sosok yang sangat mempengaruhi hidup saya.
Saya hidup belasan tahun di rantau, atau jika mundur lebih jauh dan menghitung sejak saya keluar dari rumah orang tua, lebih dari 2/3 hidup saya dijalankan di rantau. Tanpa teman dan sahabat tentunya hampir tidak mungkin. Jadi saya dapat mengatakan bahwa peran pertemanan dan persahabatan sangat penting, bahkan ada kalanya jauh lebih penting daripada keluarga.
Saya tidak mengecilkan peran keluarga, justru sebaliknya. Keluarga sudah saya obrolkan sebelumnya, saya jadikan bahan obrolan sebelum topik ini. Keluarga memiliki batasan waktu dan tempat, tapi teman dan sahabat dapat dibangun kapan saja, dimana saja dan sebanyak-banyaknya. Keluarga tidak memiliki fleksibilitas seperti itu karena banyak boundary yang sangat logis dan natural.
Pertemanan dan persahabatan memiliki tempat istimewa dalam hidup saya. Kalau dalam bahasa Inggris saya berani mengatakan I owe them my life, tanpa mereka saya tidak akan survive, tidak akan berhasil dan tidak akan bisa menjadi sosok saya sekarang ini. Itu menunjukkan betapa pentingnya mereka dalam hidup saya.
Saya beruntung dalam hidup ini ditakdirkan memiliki banyak sahabat di mana-mana. Hari ini secara khusus saya fokuskan pikiran dan hati saya untuk mereka. Saya bersyukur wajah-wajah itu hadir dalam hidup saya. Secara khusus saya ingin mengatakan ini:
"Because of you all, I laugh a little harder, I cry a little less, and smile a lot more!"
From the bottom of my heart: Thank you!!!
Foto credit: abbaloveministries.org