Sembari menunggu air dalam teko yang baru kunyalakan tadi, aku duduk mengayun pelan di atas kursi goyang. Kupandangi dinding besar di depanku yang penuh tertempeli pigura dan kuamati satu persatu gambar-gambar rupa orang yang ada di dalamnya.
Datang dan pergi, awal dan akhir, barisan kata itu pun segera muncul mewakili rasaku melihat rupa-rupa orang yang tergambar di dalam pigura-pigura itu. Sosok-sosok yang pergi dan peristiwa-peristiwa yang berlalu. Kenangan yang bersisa tertaut seperti paku yang menancap di dinding dan menjaga agar pigura itu diam ditempatnya.
Kursiku terus mengayun ke depan dan ke belakang bergantian, bergerak tak henti tapi tak kemana-mana.
What are you clinging for?
Derit suara teko terdengar sayup-sayup namun aku tak beranjak dari kursi yang terus bergoyang sesibuk pikiranku. Menempel erat meski hidup berarti terus bergerak maju seperti jantung yang berdetak dan detik yang bergeser satu demi satu.
Dari Kali hingga Black Madonna, kali ini aku tak kemana-mana. Si kopi hitam pun menunggu kutuangi air mengalir dari teko.