"Hello, could I have some coffee?" Tanya saja pada seorang wanita petugas kebersihan hotel.
"Sorry, senor! No speak English." jawabnya..
"Hmm... Cafe, Puedo tener un cafe?" tanya saya. Untung ada google translate kata saya dalam hati. Entah itu betul atau tidak tapinya hahaha..
"Si!" Jawab wanita itu.
"Gracias!" kata saya ketika diberi beberapa buah kopi dari kereta dorong dia.
"De nada." Jawabnya sambil tersenyum.
Silakan percaya atau tidak, ini adalah potret kehidupan sehari-hari di Amerika. Entah ada berapa persen penduduk, terutama pekerja di kelas bawah yang hanya bermodalkan tanaga dan tanpa ketrampilan khusus melakukan pekerjaan "ala kadarnya" untuk dapat hidup di sini, terutama daerah-daerah tertentu yang mempunyai daya tarik para imigran seperti misalnya Kota-kota besar di California, New york dan Seattle ini. Kalau mengunjungi tempat-tempat ini dan dapat menyaksikan penduduknya yang sangat bervariasi dari berbagai etnis dan suku bangsa di dunia, bahasa dan lain-lain, maka dapat dipastikan banyak sekali di antara mereka yang memiliki kemampuan berkomunikasi sangat terbatas.
Kalau saya lihat data statistik yang dapat dengan mudah dijumpai di internet, dikatakan sekitar 40 persen penduduk Amerika yang mayoritas merupakan imigran, mempunyai keterbatasan literasi dalam bahasa Inggris dan 48 persen keterbatasan literasi numeral. Nah, kalau menilai tren ini, sangat mudah dimengerti mengapa kelompok pekerja kasar di sini banyak yang dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang jauh lebih berpendidikan demi keuntungan mereka sendiri. Jadi jangan terlalu muluk menganggap di sini adalah land of dream atau land of the free, seperti lagu kebangsaan yang selalu dikumandangakn dalam acara resmi atau pertandingan olahraga. Pada kenyataannya hidup di sini itu keras. Kalau tingkat pendidikan rendah, seringkali menjadi korban.
Saya seringkali memperoleh telepon "palsu" dengan mengatas namakan biro pajak atau biro investigasi federal yang mengatakan bahwa ada transaksi ilegal yang berkaitan dengan kartu kredit yang saya miliki atau ada aktifitas ilegal yang menggunakan nomor identitas saya. Ini bisa beberapa kali seminggu atau saya pasti memperoleh telepon ini beberapa kali sebulan. Bayangkan kalau itu terjadi pada mereka yang kemampuan literasinya terbatas atau tingkat pendidikan yang kurang memadai, maka akan dengan mudah terperangkap. Jangan salah, orang yang berpendidikan saja masih bisa jadi korban, apalagi yang kurang? Bayangkan dalam beberapa waktu mendatang karena terperangkap, maka harus menelepon bank untuk membekukan semua rekening, mengganti nomor identitas dan sebagainya! Ya hidup di sini itu seperti hidup di rimba. Masih berlaku prinsip Survival to the fittest!
Saya mash sering dihubungi beberapa orang yang minta bantuan untuk menolong anggota keluarganya bekerja di Amerika. Bukannya saya sombong atau tidak mau membantu, tapi ini bukan masalah yang mudah. Untuk bisa ke sini saja harus butuh banyak dokumen dan itu sama sekali tidak mudah dan tidak murah. Jika memang hanya untuk bekerja seadanya, 1000 persen tidak akan pernah terjadi! Beberapa teman saya pernah jadi korban scam biro jasa yang menawarkan kesempatan bekerja. Kasarnya, untuk apa Amerika mendatangkan orang-orang yang tidak punya skill khusus, jika di sini masih banyak pengangguran? Hanya orang yang punya ketrampilan khusus yang sulit dijumpai di sini yang akan diberi kesempatan. Kalau hanya untuk bersih-bersih saja sih mudah dicari. Imigrasi tidak akan meloloskan. Nah saya sudah lelah menjelaskan kepada teman-teman yang menguhubungi saya. Akhirnya karena lelah, saya tidak menggubris lalu saya jadi kehilangan teman karena dianggap tidak mau membantu. Padahal sesungguhnya saya bukan tidak mau membantu, tapi juga tidak mau memberikan harapan palsu. Serba salah, memang. Tapi begitu kenyataannya.
Hari ke dua di Seattle saya banyak menjumpai kelompok pekerja semacam ini. Memang jika kebetulan ada kelompok pekerja kasar yang "beruntung" bisa masuk ke sini entah karena ada hubungan keluarga, karena kondisi politik negara asal sehingga memperoleh assylum, mereka bisa masuk dan menetap lalu bekerja ala kadarnya dengan bayaran yang kaau dibandingkan dengan negara asal memang luar biasa! Bayangkan saja jadi petugas kebersihan saja sudah bisa memperoleh sekitar $30,000 setahun! Kalikan dengan kurs mata uang di tanah air. Bedanya memang luar biasa. Kebanyakan dari mereka bekerja keras selama bertahun-tahun, uang ditabung lalu ketika mencapai usia pensiun mereka mudik dan hidup nyaman kembali di negara asal. Banyak yang begitu!
Seperti contohnya dulu saya pernah bercerita, ada sepasang suami istri staff saya bekerja sebagai tukang cuci piring dan kitchen helper. Mereka bekerja puluhan tahun dan penghasilan mereka ditabung. Di Filipina mereka punya rumah yang dijaga satpam. Begitu mereka pensiun, pulang ke negara asal dan hidup nyaman! Mereka memang pekerja keras dan beruntung dapat kesempatan untuk melakukan itu. Tapi berapa ratus juta orang yang berusaha untuk menikmati kondisi itu? Banyak dan gagal! Modal habis lalu ya gigit jari. Ada teman-teman saya yang begitu, bahkan satu orang sudah meninggal dunia.
Ini potret di masyarakat yang sangat nyata. Sama saja seperti orang yang tinggal di desa lalu berjuang membanting tulang untuk mengejar mimpi agar mampu hidup layak dengan mencoba peruntungan mereka di kota besar. Di Kota besar mereka hidup di sebuah rumah kecil, berbagi dengan banyak orang dan bekerja keras lalu membawa hasilnya ke kampung halaman. Itu banyak! Nah ini sekalanya lebih besar karena beda negara. Ya saya ikut bersyukur jika berhasil, contohnya juga banyak, Seperti misalnya perusahaan kopi langganqn saya yang terkenal di seluruh dunia. Pagi ini saya mengunjungi sebuah kedai yang merupakan kedai pertama yang merupakan cikal bakal perusahaan sukses yang sekarang memiliki ribuan gerai di seluruh dunia. Awalnya ya terinspirasi produsen kopi yang didirikan oleh seorang imigran dari Belanda yang bernama Peet. Peet merupakan salah satu merek kopi terkenal di Amerika. Nah, terinspirasi kesuksesan Peet, Jerry, Gordon dan Zev membuka kedai kopi tahun 1971. Kedai itu dipertahankan hingga sekarang di lokasi yang sama di Pasar bersejarah Pike Place Market di Seattle. Sekarang mereka sudah memiliki lebih dari 35000 gerai di seluruh dunia. Coba siapa yang tidak kenal Stabucks? Itu contoh yang berhasil, tapi coba bayangkan berapa banyak yang gagal?

Bukan saya tidak mendukung. Mimpi itu baik dan mengejar kesuksesan adalah hal yang wajar dan dialami setiap orang. Yang ingin saya tekankan adalah, being realistic! Mimpi harus masuk akal dan juga harus mawas diri. If you know who you are and your capabilities, then you can try your luck and fight as hard as you can. Sebab kalau tidak ya hanya akan menjadi punguk yang merindukan bulan.
"Senor, tienes suficiente cafe?" Tanya si Mbak yang kemarin saya mintai kopi. (artinya: Masih punya cukup kopi?)
"Si! Gracias!" Jawab saya sambil menunjukkan gelas kopi yang tadi saya beli di pasar di toko bersejarah itu!
Si Mbak mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya membersihkan kamar di sebelah kamar hotel saya. Mbak itu sedang mengejar mimpi, dia masih muda dan tampaknya dia adalah pekerja keras. Mudah-mudahan dia mau belajar bahasa Inggris dan ketrampilan lain. Semakin banyak kemampuannya semakin mudah meraih mimpi di belantara yang liar dan tanpa belas kasihan ini!***