AES 110 Kesan Terhadap KPB
leoamurist
Tuesday September 14 2021, 11:43 AM
AES 110 Kesan Terhadap KPB

Kelompok Petualang Belajar, disingkat KPB.
Secara definisi adalah satu kesatuan yang terikat norma dan aturan yang disepakati bersama. Menempuh proses yang unik, berdaya juang, dan membutuhkan pengorbanan sesuai kemampuan. Untuk mencapai kepenuhan diri melalui pemahaman akan pengalaman yang telah dilalui.

Kalau mencoba mengulas soal disepakati bersama, seringkali banyak yang salah tafsir. Merasa tidak menyepakati beberapa hal waktu diskusi kelompok. Di sinilah kita perlu membuka pikiran, bukankah dengan bergabung sebagai warga smipa sudah menyepakati norma dan aturan di dalamnya. Kalau tidak sepakat kan tidak bergabung.

KPB adalah bagian dari smipa, jadi kalau masuk kpb jelas masuk sebagai warga smipa bersama norma dan aturannya. Jadi bukan kesepakatan kelompok yang isinya lima sampai delapan orang saja lah norma kpb itu. Seperti norma komplek perumahan, itu perlu selaras norma Negara Kita Indonesia kan. Kesadaran lingkungan nih.

Kalau dari sisi kesadaran tujuan, masuk kpb untuk apa? Sebenarnya selama ada tujuan apapun itu dan selaras dengan nilai semi palar, bisa bergabung dengan kpb secara baik. Yang sering jadi persoalan adalah masuk kpb untuk cari aman, misalnya menghindari kerepotan menghadapi dunia sekolah umum di luar sana. Justru di kpb lebih repot, kan langsung menghadapi dunia lewat komunitas.

Karena olahannya untuk mengembangkan kesadaran diri, dengan metoda belajar berbasis komunitas. Semua kerepotan yang dihindari dalam menjalani kehidupan justru itulah kurikulum pembelajaran kpb, menghadapi realita dalam skala yang lebih kecil saja. Kalau mau santai jelas bukan di kpb, toh yang diasah dalam kpb adalah disiplin, sikap, dan pengorbanan.

Maka, tidak heran kalau kpb bisa melepaskan anggotanya yang tidak mengalami perkembangan. Setelah dampingan maksimal tentu saja, bahkan sampai pendampingan mentoring personal intensif satu bulan lamanya. Kalau usaha maksimal tersebut tidak membawa perkembangan, bisa jadi bukan kpb lah ruangnya berkembang.

KPB bukan ruang tunggu, tiga tahun untuk mencapai usia tujuh belas supaya legal. Malahan, KPB adalah ruang transformasi, tiga tahun yang sempit ini bisa menghadirkan transformasi sebesar apa dan mengisi kepenuhan diri sampai segimana. Nanti, setelah lulus kpb kualitas apa yang dimiliki para pesertanya.

Dari keanehan, keunikan, keberbedaan, ketidak jelasan, dll yang sering dilabelkan pada kegiatan KPB sebenarnya ada tiga nilai utama yang tetap tak berubah. Mandiri, adaptif, bermanfaat. Ketiga nilai ini diolah dengan kerangka metoda penyadaran, kemauan, pelaksanaan, dan pemaknaan. Itu kan kerangka, pelaksanaannya nanti sesuai konteks & relevansi komunitas.

Makanya, suka jadi "aneh" kan. Yah, kita kan selalu menganggap aneh hal yang tidak mampu kita bayangkan. Makanya, perlu mengalami dahulu baru bisa punya bayangan yang lebih luas. Kalau udah punya bayangan yang lebih luas, tidak ada yang aneh karena semua masuk akal. Akalnya meluas, jadi bisa masuk menampung paradigma yang lebih luas dari biasanya.

You May Also Like