Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin kembali bercerita tentang sesuatu yang pernah saya tulis dahulu: liminal space. Sebuah istilah yang terdengar asing, padahal diam-diam sangat dekat dengan hidup kita. Pada intinya, liminal space adalah ruang transisi—momen ketika sesuatu belum sepenuhnya berakhir, tapi juga belum benar-benar dimulai.
Dan anehnya, semakin saya menulis novel saya, semakin saya merasa hidup manusia sebenarnya dipenuhi ruang-ruang seperti itu. Hari ini saya menyadari satu hal sederhana: semua hal bisa datang, dan suatu saat bisa menghilang.
Kesadaran itu datang dari sesuatu yang sangat kecil. Sebuah kursi kafe. Kursi yang ada di foto banner tulisan saya ini awalnya tampak biasa saja. Orang duduk di sana, menyantap kopi, memandang jalan Braga yang pagi ini terlihat begitu ranum—jalanan tua yang seolah tidak pernah benar-benar kehilangan romantismenya. Orang itu duduk cukup lama. Menikmati waktu, atau mungkin melarikan diri dari sesuatu, saya tidak tahu.
Lalu beberapa saat kemudian, ia pergi. Dan yang tertinggal hanya kursi kosong. Tak bertuan, diam, menunggu. Tidak lama kemudian, ada orang lain datang dan duduk di tempat yang sama. Memesan kopi lain. Membawa cerita lain. Lalu siklus itu berulang lagi.
Datang , tinggal sebentar, lalu pergi.
Saya baru sadar, hidup manusia mungkin memang tidak jauh berbeda dari kursi-kursi di kafe itu. Kita mengisi ruang yang sebelumnya ditempati orang lain. Kita hadir sebentar di hidup seseorang, lalu suatu hari pergi dan digantikan oleh hal lain. Tidak selalu tragis, tidak selalu menyakitkan. Kadang itu hanya bagian dari cara dunia bergerak.
Dan mungkin itulah yang disebut transisi. Banyak orang mengira hidup hanya soal tujuan akhir: lulus, bekerja, berhasil, tua. Padahal sebagian besar hidup justru terjadi di tengah-tengah perpindahan itu. Saat kita belum tahu akan jadi apa. Saat seseorang masih bersama kita, tapi diam-diam mulai menjauh. Saat sebuah tempat perlahan berubah asing meski bentuknya masih sama.
Liminal space selalu terasa sedikit sepi karena ia berada di antara dua keadaan.
Seperti stasiun setelah kereta terakhir pergi.
Seperti lorong sekolah sore hari.
Seperti kursi kosong di sudut kafe Braga.
Dan mungkin karena itulah manusia sering takut pada transisi. Karena di dalamnya ada ketidakpastian. Kita tidak tahu siapa yang akan datang, siapa yang akan tinggal, dan siapa yang akhirnya pergi tanpa sempat berpamitan.
Namun hari ini saya mulai berpikir, mungkin hidup memang tidak diciptakan untuk menetap terlalu lama di satu tempat. Karena bahkan kopi yang hangat pun akhirnya dingin. Bahkan kursi yang kosong pun suatu hari akan terisi lagi.
Dan manusia, suka atau tidak, akan terus berjalan dari satu persimpangan menuju persimpangan berikutnya.