Suatu tempat memang perlu begitu-begitu saja, agar yang singgah padanya berkembang. Kemudian melanjutkan perjalanan, mengembangkan tempat lain. Menjadi bagian dari tempat yang dikembangkannya itu, sampai taraf yang gitu-gitu aja.
Suatu person memang perlu begitu-begitu saja, agar yang berjumpa dengannya berkembang. Kemudian meninggalkannya, menuju koneksi baru yang lebih daripada itu. Menjadi pusat koneksi baru itu, sampai taraf gitu-gitu aja. Agar yang berjumpa dengannya berkembang.
Kalau tempat yang berkembang, nanti yang singgah malah stagnan. Kalau person yang berkembang, nanti yang berjumpa dengannya ketagihan. Seperti seorang yang kebiasaan terlambat dan tidak proaktif, begitu mengagunggkan inisiatif dan aktivitas sampai membuat klub pemuja barang mewah yang tidak mampu dimilikinya.
Semua peningkatan, pertumbuhan, dan perkembangan yang dillalui ini tidak bukan adalah mengarah pada kondisi gitu-gitu aja. Semua keluar biasaan ini menuju pada yang biasa. Semua anti kemapanan ini menuju pada yang mapan. Semua perlawanan ini menuju pada suatu kepatuhan.
Bukankah kita menolak dibikinkan kopi agar kita dapat membuatnya sendiri. Kemudian kopi bikinan kita ditolak agar mereka dapat membuat kopinya sendiri juga. Kalau keterusan dibikinkan kopi atau membikinkan kopi, kita seperti tempat yang berkembang dengan mengonsumsi mereka yang singgah sehingga mereka stagnan.
Kalau keterusan membikinkan kopi atau dibikinkan kopi, kita seperti seorang yang berkembang dengan memutuskan koneksi mereka yang berjumpa dengan kita dengan cara membuat mereka ketagihan. Seperti ironi seorang yang berbicara pentingnya menjadi aktif, sambil pasif menunggu kabar yang tak kunjung datang dari responsibilitas yang pernah diambilnya.