"Mas Jo, aku bikin tempe. Mau engga?" Tanya salah satu teman saya yang tinggal di kota lain sekitar 52 km dari tempat saya tinggal.
"Mauuuu..." Jawab saya langsung. Kebetulan persediaan tempe saya di freezer sudah habis. Yang terakhir kemarin saya soreng, lalu saya hancurkan, diberi cabe rawit dan bawang putih. Jadilah sambal untuk menemani saya makan malam dengan sayur lodeh serta perkedel jagung yang sehar i sebelumnya saya masak di rumah salah satu sahabat.
"Sekarang cuma ada 5, mas. Kalo mau, 2 hari lagi saya ada 5 lagi yang fresh." Kata teman saya lagi.
"Mau dong 10. Yang sudah beku biar aja, nanti langsung masuk freezer dan yang 5 biar fresh." Kata saya lagi. Itu kemarin, dan ternyata hari ini tempe sudah siap jadi sepulang kerja saya langsung meluncur menuju Evans, nama kota tempat teman saya itu tinggal.
Tempe adalah makanan mewah di tempat saya tinggal sekarang ini. Supermarket banyak menjual, terutama supermarket untuk makanan sehat dan makanan alternatif, tapi tidak sama dengan tempe di Indonesia. Di sini seringkali proses pembuatannya dicampur dengan brown rice, ada juga yang menggunakan bulgur. Saya yang kalau urusan tempe harus yang normal dengan kualitas yang biasa saya nikmati sejak jaman kecil, tidak terlalu puas dengan tempe yang dijual di surpermarket. Dulu ketika di Hawaii saya sering membeli yang beku, katanya sih dari Indonesia kemasannya ada gambar wayangnya. Kadang saya memesan 1 doos, tidak ingat isinya berapa hahaha. Nah beruntunglah di Colorado banyak ibu-ibu yang membuat tempe, jadi saya sangat bahagia di sini. Tidak ada makanan umum yang dijumpai di Indonesia yang tidak dapat dijumpai di sini. Tapi sekali lagi biasanya saya membeli tempe yang walaupun buatan lokal di sini, tetap sudah dibekukan untuk mengawetkan dan tidak cepat busuk. Harganya? Hahaha.. ya lumayan mahal lah, jauh lebih mahal dari 1 pound daging ayam! Tapi tempe memang spesial, jadi walau tidak murah, saya rela biarpun saya harus nyupir jauh. Nah kali ini kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal, hanya sekitar 35 menit perjalanan, maka saya niati!
Saya tidak pernah merasa malas jika diminta untuk nyupir. Di sini saya sangat menikmati mengemudi karena jalanan sangat bersahabat, tidak terlalu ramai dan para pengguna jalan sangat santun. Jadi walau jarak lebih dari 50 km, tetap bisa dicapai tidak lebih dari 35 menit. Bayangkan dulu jika saya harus mengantar Kano ke sekolah di Smipa, jarak hanya 14 km bisa menghabiskan waltu lebih dari 1 jam, kalau macet malah bisa 2 jam! Itu yang pertama. Kedua, keluarkota artinya saya bisa menikmati berbagai pemandangan. Padang rumput yang sangat luas dengan rocky mountains yng berderet panjang yang walaupun di musim panas puncaknya masih ditutupi salju, merupakan suguhan pemandangan yang sangat menyenangkan untuk dinikmati selama mengemudi.
Teman-teman mungkin akan tertawa jika mengetahui saya harus mengemudia lebih dari 1 jam pulang pergi hanya untuk tempe. Hahaha.. jangan salah, demi makanan favorit saya rela untuk pergi jauh. Demi makan fresh poke dan malasadas saya sudah 2 kali terbang ke Hawaii! Hahaha.. Itu salah satu contohnya. Jadi ya tidak seberapa jika hanya butuh waktu 1 jam untuk bisa menikmati tempe segar. Dalam perjalanan menuju Evan tiba-tiba Nina berteriak," Jo, tuh ada Restoran Hawaii!" NIna langsung membuka telepon genggamnya dan mencari tahu. Dia menemukan menunya di google dan dalam perjalanan pulang kami mampir. Untuk makan malam kami membeli Hawaiian BBQ combo yang isinya 2 scoop nasi putih, Kalbi, BBQ Beef, BBQ Chicken, macaroni salad dan broccoli.

Kami sama sekali tidak menyesal sudah mampir di situ karena ternayata rasanya enak sekali dan mengingatkan kami pada saat di Hawaii. Jadi tidak rugi khan jauh-jauh mengambil tempe? Sambil mengejar tempe saya bisa dapat Hawaiian BBQ, ini judulnya memang besar! Hahahaha...