AES001 Solo Hiking
Linda Djuanda
Thursday September 23 2021, 10:05 PM
AES001 Solo Hiking

 My solo hiking experience.

Entah bagaimana mulanya saya jatuh cinta dengan hiking terutama hiking ke lokasi lokasi wisata air terjun. Sejak dari dulu memang saya sangat menikmati suasana alam yang asri. Dan ketika pandemi covid-19 menyebar diseluruh negara dan saya dirumahkan, membuat saya berfikir keras bagaimana cara untuk tetap menjaga kebugaran tubuh sekaligus mengurangi stress akibat dirumahkan. Saya tinggal dikawasan Dago Atas yang kebetulan dekat dengan beberapa lokasi wisata alam seperti Tahura ( Taman Hutan Raya ) Juanda dan juga kawasan wisata alam Curug Dago dan Tebing Keraton. Dan pengalaman hiking saya pun dimulai ketika pada suatu hari di akhir bulan Agustus 2020 saya mengunjungi Tahura yang berlokasi di Dago Pakar. Dari pintu masuk Tahura di Dago Pakar saya berniat melakukan solo hiking hingga kekawasan Curug Omas di Maribaya yang berjarak kurang lebih 5 km. Dan semenjak itu pulalah saya memutuskan untuk melakukan solo hiking ke berbagai wisata alam terutama yang memiliki objek wisata air terjun atau dalam istilah saya 'nyurug'. TAMAN HUTAN RAYA DJUANDA

Pada tanggal 31 Agustus saya memutuskan untuk hiking ke kawasan Taman Hutan Raya Djuanda yang berjarak kurang lebih 5 km dari rumah saya. Dari rumah saya mengendarai sepeda motor hingga area parkir Tahura. Setelah pada pagi harinya saya melakukan reservasi, di pintu loket saya tak perlu mengantri lama dan membayar Rp.25.000,- termasuk parkir kendaraan.

Dari pintu loket saya mengawali hiking dengan memantapkan hati harus sampai hingga ke kawasan Maribaya – Lembang.  Entah telah berapa kali saya mengunjungi kawasan Tahura sepanjang hidup saya. Tetapi tetap tidak pernah membuat saya bosan untuk berkunjung dan berkunjung lagi kekawasan Tahura. Kawasan Tahura sendiri bagi saya seperti sebuah paket komplit sebuah wisata alam. Kita bisa hiking sambil chatting, jogging atau sekedar menghabiskan waktu bermain bersama anak. Selain itu kita bisa mengenal ragam vegetasi yang ada di Tahura dan melakukan perjalanan susur goa di Goa Jepang dan Goa Belanda atau melihat habitat dari monyet ekor panjang dan rusa yang hidup dipenangkaran. Dari mulut Goa Belanda saya memilih mengambil jalan memutar daripada masuk ke Goa Belanda, karena selain penakut saya juga phobia dengan tempat yang gelap dan dingin. Muncul di sisi lain Goa Belanda, saya melanjutkan perjalanan melalui jalan setapak yang sudah di aspal. Sunyi dan hanya suara langkah kaki saya sembari sesekali terdengar suara burung dan suara monyet bersahutan. Rasa nya begitu menenangkan. Tiba di sebuah pertigaan dengan papan penunjuk ke arah Penangkaran Rusa dan Curug Koleang. Saya memutuskan untuk mengunjungi Curug Koleang terlebih dahulu. Meski jalan batu nya masih terlihat cukup jelas, namun seperti menuju kearah Curug Koleang ini sudah lama tidak dilewati. Jadi hanya sampai papan informasi bertuliskan Curug Koleang saya memutar balik dan melanjutkan perjalanan ke penangkaran rusa. Melalui jembatan goyang untuk melintasi Curug Koleang di bagian bawah, lumayan membuat saya menahan nafas dan tidak berani melihat ke arah bawah. Perjalanan melintasi jembatan goyang yang tidak seberapa panjang namun terasa lama bagi saya. Dan setelah berhasil melintasi nya, saya kembali menyusuri jalan setapak menuju penangkaran rusa. Kondisi sungai tidaklah deras karena memang kebetulan saya datang pada saat musim kemarau. Tapi justru karena itu, pemandangan kurang sedap harus saya lihat disepanjang aliran sungai Cikapundung ini. Banyak nya sampah serta air yang berbusa dan menimbulkan aroma yang sangat mengganggu perjalanan saya. Padahal, apabila warga di hulu sungai menjaga keasrian sungainya, saya yakin sungai ini bisa dijadikan potensi wisata untuk olahraga air seperti body rafting.  Setibanya dipenangkaran rusa, tidak begitu banyak pengunjung disana. Mungkin hanya sekitar 6 – 10 orang saja. Mereka terlihat asik bercengkrama satu sama lain, beberapa orang anak nampak sibuk bolak balik mengambil rumput liar dan memberikannya pada rusa rusa tersebut. Saya membeli seember wortel yang telah disediakan seorang pemilik warung disana. Kemudian mendekati kandang rusa dan memberikan mereka wortel wortel tersebut. Cuaca panas menyengat siang itu, sehingga saya memutuskan untuk tidak berlama lama dipenangkaran rusa dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Curug Omas di kawasan wisata Maribaya. Dalam perjalanan, saya berhenti disebuah warung dan memesan satu buah kepala hijau sambil bercakap cakap dengan beberapa warga yang rupanya sedang beristirahat juga disana. Salah satu nya bernama Pak Agus Bagja yang merupakan seorang warga yang tinggal tidak jauh dari kawasan Tahura dan merupakan pekerja PLTA yang sehari hari nya mengecek kondisi penampungan air yang terdapat di sepanjang Tahura. Selesai bercakap cakap, saya melanjutkan kembali perjalanan. Tak disangka Pak Agus mengikuti saya dari belakang. Ketika saya bertanya, beliau mengatakan “ Saya khawatir seorang perempuan jalan sendirian ditengah hutan,bu.” Hingga akhir nya Pak Agus menjadi teman seperjalanan saya dari penangkaran rusa hingga ke Curug Omas. Sepanjang jalan, Pak Agus banyak bercerita mengenai kawasan Tahura. Mengenai Goa tersembunyi di kawasan tersebut yang masih di teliti berbagai lembaga pemerintahan hingga kisah kisah mistis yang Pak Agus alami selama bekerja sebagai pekerja lapangan disana. Tak terasa kami sampai di penunjuk jalan menuju ke salah satu situs yang ada di kawsana Tahura. Namanya Situs Batu Batik. Seumur hidup saya, baru saya tahu bahwa tak hanya Situs peninggalan Belanda dan Jepang yang ada disana, akan tetapi ada juga Situs Batuan Geologi disana. Dari jalan utama, saya mengambil jalan menurun sejauh 100 meter untuk bisa sampai di Batu Batik tersebut. Jalan nya setapak dan dipenuhi semak belukar. Disini mulai saya pahami bahwa nampaknya situs ini pun kurang mendapat perhatian dari pengelola. Menuruni anak tangga yang terbuat dari papan dengan besi besi pegangan yang sudah mulai berkarat, saya sedikit kecewa dengan pemandangan yang saya lihat. Dibawah sana, tepat disamping situs batu tersebut, air cikapundung mengalir dengan menimbulkan aroma yang tidak sedap, berbusa dan tentu saja membawa sampah. Pak Agus memberitahu saya bahwa selepas jam 12.00 siang, air dari kawasan Lembang yang merupakan aliran hulu sungai Cikapundung banyak membawa kotoran sapi yang dibuang warga ke sungai. Yahhhhhh.... sangat disayangkan memang. Tak kuat saya berlama lama di situs Batu Batik tersebut dikarenakan aroma air sungai yang mennyengat. Hingga akhirnya saya putuskan untuk kembali ke jalan utama dan melanjutkan perjalanan kembali ke Curug Omas. Tidak begitu jauh dari Situs Batu batik tersebut, saya tiba di papan penunjuk jalan yang bertuliskan Curug Lalay. Berdasarkan cerita Pak Agus, mengapa Curug tersebut dinamakan Curug Lalay, karena terdapat sebuah Goa alam disebelah Curug tersebut dan terdapat banyak Lalay atau kelelawar. Namun untuk melihat Curug tersebut, menurut Pak Agus kita harus sedikit berada ketengah sungai. Berfikir sebentar, saya memutuskan untuk tidak turun ke arah Curug Lalay. Selain jalan setapaknya sudah banyak ditumbuhi semak belukar, aroma air nya pun sudah sangat menyengat. Tercium dari jalan utama tempat saya dan Pak Agus menarik nafas. Akhir nya kami melanjutkan perjalanan menuju Curug Omas. Tak lama perjalanan kami pun tiba di Curug Omas. Total perjalanana yang saya tempuh dari Tahura ke Curug Omas Maribaya adalah sejauh 5 km. Itu berarti perjalanan pulang juga kurang lebih 5 Km. Sehingga total 10 Km saya tempuh dengan durasi kurang lebih 4 jam. Setelah mengambil beberapa buah foto, saya kembali pulang bersama Pak Agus. Kaki mulai terasa sakit, perbekalan minum sudah habis, tapi ada perasaan yang tidak biasa dalam diri saya. Bahagia sekaligus bangga terhadap diri saya sendiri. Namun yang utama adalah ketenangan saya saat dikelilingi pepohonan dan udara yang sejuk. Dan dalam hati saya berjanji, akan terus melakukan perjalanan menyusuri curug – curug yang ada di Bandung dan sekitarnya dengan harapan suatu saat saya bisa menyusuri seluruh air terjun yang ada di dunia. Aamiin.

innocentiaine
@innocentiaine   5 years ago
Mantap bener ka Linda 😃👍🏼
You May Also Like