Memberi itu mudah, apalagi kalau memang tugas yang perlu dituntaskan. Seperti memberi presentasi, seperti memberi laporan, seperti memberikan informasi. Semudah berikan saja tautannya yang entah ada dimana yang penting bisa ditonton dengar lihat semua yang mengakses tautan tersebut sekali sentuh.
Semudah memberikan uang receh kepada pengemis anak-anak yang bernyanyi entahlah di simpang jalan ketika lampu merah. Semudah celetukan yang dilabeli becandaan untuk menutupi intensi meremehkan yang sebenarnya jelas terlihat sekali meremehkan dengan celetukan semacam itu.
Semudah parkir motor standar samping secepat kilat langsung pergi meninggalkan area tanpa lihat kiri kanan apakah ada ruang untuk motor lain yang kemungkinan akan menggunakan ruang bersama itu. Semudah mengabaikan kemungkinan, peluang, dan sebab akibat.
Hey! Memberi, tidak semudah itu. Memberi itu susah. Karena perlu memerhatikan tiga hukum utama menjadi bagian (partisipasi) yang memenuhi nilai saling membantu saling membangun saling menjadi. Yaitu, kemungkinan (posibilitas), peluang (probabilitas), dan sebab-akibat (kausalitas).
Pemberian tidak hanya untuk saat ini saja, karena kalau untuk saat ini saja itu hanya melepaskan beban dari tanggung jawab memberi. Tanggung jawab memberi adalah soal pemenuhan tiga hukum tadi. Kemungkinan pemberian ini akan digunakan lagi di masa depan ada kah? Peluangnya besar kah? Pemberian semacam ini membantu kah?
Memberi yang membantu itu bagaimana? Yang memudahkan untuk memanfaatkannya di kemudian hari. Membuka kemungkinan penggunaan di masa depan, memperbesar peluang penggunaan dengan kemudahan akses, dan memberikan dampak baik berupa efisiensi akses & skema jelas yang dipahami kurang dari semenit.
Kalau tidak demikian? Itu sih memberi yang membatu. Hanya menuntaskan tugas, lepaskan, sudahi, dan biarkan saja yang nanti dengan kerumitan nanti lagi yang penting sekarang sudah tuntas melaksanakan bagian.
Wah, ini susah ya? Jelas! Memberi kan membutuhkan kecerdasan. Seperti menerima, membutuhkan kecerdasan juga.